
H. Ayi Subhan Hafas dan Penguatan BKPRMI Sumedang
BADAN Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Sumedang memegang peran penting dalam pembinaan pendidikan keagamaan dan generasi muda. Di bawah kepemimpinan H. Ayi Subhan Hafas, arah kerja BKPRMI kian terlihat jelas: penguatan pendidikan Al-Qur’an, pembinaan remaja masjid, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Sumedang.
Peran ini penting sebab pendidikan keagamaan di tingkat masyarakat tidak berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur’an semata. Lebih dari itu, pendidikan Al-Qur’an merupakan bagian dari proses membangun karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan akhlak generasi muda.
Jaringan Pendidikan Al-Qur’an yang Meluas
Skala kerja BKPRMI Sumedang tergambar jelas dalam pelaksanaan Haflah Musyahadah 2026. Sebanyak 2.320 peserta mengikuti munaqasyah, sementara 686 santri dari 89 TKA/TPA yang tersebar di 22 kecamatan mengikuti prosesi haflah tersebut.
Angka ini menunjukkan bahwa BKPRMI memiliki jaringan pendidikan Al-Qur’an yang cukup luas di Kabupaten Sumedang. Di balik angka tersebut, ada santri, guru, orang tua, pengelola TKA/TPA, dan lingkungan masjid yang bersama-sama membentuk ekosistem pendidikan berbasis masyarakat.
BKPRMI karena itu tidak tepat jika hanya dipandang sebagai organisasi kepemudaan berbasis keagamaan. Organisasi ini juga menjadi instrumen sosial yang berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia melalui jalur pendidikan non formal, sebuah konteks yang membuat kepemimpinan Ayi Subhan Hafas menarik untuk dicermati.
Arah pembinaan BKPRMI tidak berhenti pada kegiatan belajar membaca Al-Qur’an. Pemerintah Kabupaten Sumedang turut menempatkan BKPRMI sebagai mitra dalam pembinaan generasi muda melalui kegiatan TPA/TPQ, pembinaan pemuda, kegiatan sosial, serta berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya.
Konsep ini relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Anak-anak dan remaja membutuhkan ruang pendidikan yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga memberi pengalaman sosial, menumbuhkan rasa tanggung jawab, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan. Masjid, dalam konteks ini, berpotensi menjadi ruang pendidikan yang sangat strategis.
Program pemeliharaan masjid yang melibatkan remaja bukan sekadar urusan menjaga kebersihan tempat ibadah. Bila dikelola sebagai proses pendidikan, kegiatan tersebut mampu menanamkan nilai gotong royong, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kepedulian sosial pada generasi muda.
Pada 2024, BKPRMI Sumedang memperoleh bantuan kendaraan operasional yang, menurut keterangan Pemerintah Kabupaten Sumedang, berkaitan dengan program pemeliharaan masjid. Ayi Subhan Hafas menyebut kendaraan tersebut akan mendukung kegiatan kebersihan masjid oleh remaja masjid di berbagai wilayah Sumedang.
Di sisi lain, BKPRMI juga aktif mendorong prestasi lewat Festival Anak Saleh Indonesia (FASI). Pada FASI XII Jawa Barat 2024, BKPRMI Sumedang mengirimkan 31 peserta pada 13 bidang lomba dari jenjang TKA, TPA, hingga TQA.
Prestasi tentu penting, tetapi keberhasilan pendidikan keagamaan sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah piala atau posisi dalam perlombaan. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana proses pendidikan mampu melahirkan anak dan remaja yang memiliki kemampuan keagamaan sekaligus karakter yang baik.
Dari Banyak Kegiatan Menuju Dampak yang Terukur
Tantangan BKPRMI Sumedang ke depan justru semakin besar di titik ini. Pertumbuhan jumlah peserta didik perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas guru, penguatan kurikulum, evaluasi pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta pengukuran dampak pendidikan terhadap kehidupan sosial peserta didik. Singkatnya, BKPRMI perlu terus bergerak dari sekadar banyak kegiatan menuju kegiatan yang terukur dampaknya.
Pendekatan berbasis data menjadi kunci untuk memperkuat akuntabilitas organisasi. Data mengenai jumlah TKA/TPA, peserta didik, tenaga pendidik, capaian prestasi, program pembinaan remaja masjid, hingga perkembangan setiap tahun perlu terdokumentasi secara terbuka dan sistematis. Ini bukan sekadar kebutuhan administratif, transparansi data justru menjadi instrumen untuk menilai sejauh mana program organisasi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Pendidikan Al-Qur’an yang diposisikan sebagai investasi sumber daya manusia menuntut keberhasilan BKPRMI dilihat dalam perspektif jangka panjang. Generasi Qur’ani yang dibangun hari ini adalah generasi yang kelak menjadi bagian dari masyarakat, dunia pendidikan, pemerintahan, dunia usaha, dan berbagai sektor kehidupan lainnya. Nilai-nilai Al-Qur’an, oleh karena itu, perlu diterjemahkan menjadi karakter yang konkret: jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, peduli lingkungan, dan memiliki semangat berkontribusi bagi masyarakat.
Kepemimpinan Ayi Subhan Hafas memiliki ruang untuk terus memperkuat BKPRMI Sumedang sebagai organisasi pendidikan dan sosial keagamaan yang modern, terbuka, dan berbasis data pada titik ini.
BKPRMI tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpulnya pemuda dan remaja masjid. Organisasi ini punya potensi lebih besar sebagai penghubung antara masjid, pendidikan Al-Qur’an, keluarga, dan masyarakat. Modal sosial itu sebenarnya sudah tersedia, tergambar dari jaringan TKA/TPA yang luas, keterlibatan remaja masjid, kegiatan sosial, serta dukungan kemitraan dengan pemerintah daerah.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana modal sosial tersebut dikelola menjadi gerakan pendidikan yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan.
Keberhasilan BKPRMI Sumedang pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan atau berapa banyak santri yang diwisuda. Ukuran terpentingnya adalah sejauh mana organisasi mampu menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang berkualitas, masjid yang hidup, remaja yang aktif, dan generasi muda berkarakter kuat. Jika arah ini terus diperkuat, BKPRMI Sumedang di bawah kepemimpinan Ayi Subhan Hafas tidak hanya menjalankan fungsi organisasi, tetapi juga dapat berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem pembangunan generasi Qur’ani dan sumber daya manusia Kabupaten Sumedang. (ES/NR01)