
Bukan Sekadar Baliho, PDI Perjuangan Sumedang Bangun Kepercayaan Lewat Kerja Nyata
POLITIK pada akhirnya bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Politik adalah soal seberapa dekat sebuah partai dengan denyut kehidupan rakyatnya.
PDI Perjuangan Kabupaten Sumedang tampak sedang menemukan kembali roh perjuangannya. Di bawah Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumedang, Asep Ronny, S.AP., M.AP., partai berlambang banteng moncong putih itu memperlihatkan wajah yang lebih dekat dengan masyarakat. Bukan sekadar hadir saat momentum politik datang, tetapi turun ke tengah rakyat dalam suasana yang cair, guyub, dan membumi.
Langkah ini menyusul pembenahan struktur dan kepengurusan partai yang baru rampung. Sesudahnya, pengurus bergerak menyapa kembali masyarakat di 26 kecamatan se-Kabupaten Sumedang, termasuk menyambangi desa-desa secara acak. Pesannya sederhana, tapi kuat secara politik: partai harus kembali berada di tengah rakyat.
Kemerdekaan Sebagai Ruang Konsolidasi Sosial
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimanfaatkan untuk membangun kedekatan itu. PDI Perjuangan Sumedang tidak hanya membawa atribut partai, tetapi ikut melebur dalam kegiatan warga: gerak jalan, senam sehat, turnamen bola voli, aneka perlombaan, hingga pesta rakyat. Kepedulian sosial turut diwujudkan lewat santunan, bantuan kebutuhan pokok, serta cek kesehatan dan pengobatan gratis.
Di titik inilah politik menemukan makna yang lebih substantif. Masyarakat tidak selalu butuh pidato politik yang panjang. Yang mereka butuhkan sering kali sederhana: kehadiran, bantuan nyata, dan ruang untuk didengar. Aspirasi menjadi mata dan telinga partai. Berbagi menjadi cara menunjukkan bahwa politik tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya.
Asep Ronny tampak memahami bahwa mengembalikan marwah partai tidak cukup lewat konsolidasi struktural saja. Partai juga harus menemukan kembali hubungan emosional dengan basis massanya: kembali ke akar, kembali mendengar, kembali bergotong royong, dan yang terpenting, menempatkan rakyat sebagai pusat dari setiap kerja politik.
Menghidupkan Kembali Khitah Kerakyatan
PDI Perjuangan punya sejarah panjang sebagai partai pengusung gagasan kerakyatan. Ketika pengurusnya turun ke kampung-kampung, berbaur dengan warga, dan ikut meringankan beban masyarakat, langkah itu sekaligus jadi upaya menghidupkan kembali khitah partai sebagai kekuatan politik yang berpihak kepada rakyat.
Ada pesan politik yang tersirat di sini: partai tidak harus selalu berbicara soal kontestasi. Ada ruang jauh lebih luas untuk membangun kepercayaan publik lewat kerja nyata, terutama di tengah tekanan ekonomi dan berbagai persoalan sosial yang membuat warga butuh lebih dari sekadar kebijakan. Mereka butuh rasa kebersamaan. Itu sebabnya perayaan kemerdekaan sengaja dikemas riang dan penuh kebersamaan. Kemerdekaan semestinya tidak hanya dirayakan lewat seremoni, tapi juga dirasakan sebagai kegembiraan bersama, apalagi oleh masyarakat yang setiap hari bergulat dengan peliknya kehidupan.
Kehadiran PDI Perjuangan Sumedang menarik dicermati dalam konteks ini. Partai sedang mencoba membangun politik yang lebih humanis, politik yang tidak berjarak, politik yang mau turun dari panggung dan duduk bersama rakyat. Asep Ronny menempatkan momentum ini sebagai kesempatan menyerap aspirasi sekaligus berbagi, sebuah pendekatan klasik dalam politik kerakyatan yang tetap relevan di tengah perubahan perilaku politik masyarakat.
Kepercayaan publik tidak lahir dari baliho. Ia tumbuh dari interaksi, konsistensi, dan bukti bahwa partai benar-benar hadir saat masyarakat membutuhkan. Gerak jalan, turnamen bola voli, pesta rakyat, santunan sembako, pengobatan gratis, semuanya terlihat sederhana. Tapi jika dilakukan konsisten dan berkelanjutan, rangkaian kegiatan ini bisa jadi fondasi penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap partai politik.
Di bawah kepemimpinan Asep Ronny, PDI Perjuangan Sumedang seolah menyalakan kembali api yang sempat redup. Bukan dengan retorika besar, tapi dengan langkah kecil yang langsung menyentuh masyarakat. Partai ini tidak hanya bicara tentang rakyat, tetapi hadir bersama rakyat. Jika arah ini bisa dipertahankan, bukan tidak mungkin PDI Perjuangan Sumedang benar-benar menemukan kembali rohnya: dekat dengan rakyat, kuat di akar rumput, dan konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, marwah sebuah partai bukan hanya diukur dari banyaknya kursi yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar rakyat merasa memiliki dan diperjuangkan oleh partai itu. Di situlah politik menemukan kembali maknanya: di tengah rakyat, bersama rakyat, dan bekerja untuk rakyat. (ES/NR01)