
Agus Wahidin Bawa Kebangkitan Bonsai Sumedang, Dari Rekor Nasional hingga Jadi Sumber Ekonomi Masyarakat
SUMEDANG, Narasi.id – Di tengah kesibukannya sebagai Direktur Peningkatan Kualitas Perumahan Perdesaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia, H. Agus Wahidin, S.Pd., M.Si tetap konsisten mengembangkan dunia bonsai. Dedikasinya sebagai Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Sumedang selama tiga periode telah membawa daerah ini menjelma menjadi salah satu pusat bonsai paling diperhitungkan di Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, PPBI Sumedang tidak hanya berhasil membangun komunitas yang solid, tetapi juga melahirkan ekosistem bonsai yang mampu mengangkat nama daerah sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Tahun ini, PPBI Cabang Sumedang kembali menggelar kegiatan Silaturahmi dan Jemur Bonsai di kawasan wisata Nabawadatala, Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan. Kegiatan tersebut menjadi ruang berkumpul para pegiat bonsai untuk mempererat silaturahmi, bertukar pengalaman, sekaligus mengevaluasi perkembangan karya-karya bonsai yang terus tumbuh di Kabupaten Sumedang.
Dari Rekor Nasional hingga Menjadi Barometer Bonsai Indonesia
Perjalanan PPBI Sumedang dalam beberapa tahun terakhir terbilang luar biasa. Selama empat tahun berturut-turut, organisasi tersebut sukses menggelar Kontes dan Pameran Bonsai Lokal Terbuka yang selalu mendapat sambutan besar dari para penghobi bonsai dari berbagai daerah.
Puncaknya terjadi ketika Sumedang mencatat sejarah nasional melalui penyelenggaraan kontes bonsai dengan jumlah peserta mencapai 1.369 peserta di Lapangan Sepak Bola Cimalaka. Angka tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam dunia perbonsaian Indonesia dan menempatkan Sumedang sebagai daerah yang memiliki basis penghobi bonsai sangat kuat.
Menurut Agus Wahidin, kegiatan silaturahmi dan jemur bonsai yang digelar tahun ini merupakan bagian dari persiapan menuju penyelenggaraan kontes dan pameran yang lebih besar di masa mendatang.
“Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi para penggemar bonsai Sumedang sekaligus pemanasan untuk menyelenggarakan kontes dan pameran bonsai yang lebih besar. Selain itu, ini juga menjadi sarana evaluasi terhadap progres hasil karya para seniman bonsai Sumedang,” ujarnya.
Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Dibutuhkan pembinaan berkelanjutan, regenerasi komunitas, serta semangat kolektif para seniman bonsai yang terus belajar dan berinovasi.
Bonsai Bukan Sekadar Hobi, tetapi Peluang Ekonomi Bernilai Miliaran Rupiah
Bagi Agus Wahidin, bonsai tidak hanya berbicara tentang estetika, kesabaran, dan kecintaan terhadap alam. Lebih dari itu, bonsai telah berkembang menjadi sektor ekonomi kreatif yang menjanjikan.
Ia mengaku bangga melihat perkembangan seni bonsai Sumedang yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan sangat pesat. Tidak hanya menghasilkan karya bonsai berkualitas, Sumedang juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bahan bonsai unggulan di tingkat nasional.
“Saya merasa bangga dan bersyukur atas perkembangan seni bonsai Sumedang yang sangat pesat. Kini Sumedang memiliki nama besar di tingkat nasional, baik dalam bentuk karya seni bonsai maupun pengembangan budidaya bahan bonsai,” katanya.
Kesuksesan itu terlihat dari munculnya sejumlah petani bonsai yang mampu menjadikan hobinya sebagai sumber penghasilan utama. Agus Wahidin mencontohkan sosok Gones Suarma dari Buahdua dan Agus Rohendi dari Ujungjaya yang berhasil mengembangkan usaha budidaya bonsai dalam skala besar.
Dengan ribuan pohon bahan bonsai yang dibudidayakan di lahan yang luas, keduanya mampu mencatat omzet penjualan hingga ratusan juta bahkan mencapai miliaran rupiah. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa bonsai dapat membuka lapangan usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Artinya, bonsai bukan sekadar seni dan hobi. Bonsai memiliki nilai tambah ekonomi yang besar dan dapat menjadi mata pencaharian yang sangat menjanjikan,” tegasnya.
Dipercaya di Tingkat Nasional, Siapkan Generasi Baru Seniman Bonsai
Komitmen Agus Wahidin dalam mengembangkan dunia bonsai tidak hanya mendapat apresiasi di tingkat daerah. Pada Musyawarah Nasional PPBI di Sidoarjo, Jawa Timur, ia kembali memperoleh kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Pendidikan PPBI Pusat.
Jabatan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam membangun pendidikan, pembinaan, dan regenerasi insan bonsai Indonesia. Peran tersebut juga membuka peluang lebih besar bagi Sumedang untuk terus menjadi salah satu pusat pengembangan bonsai nasional.
Bagi Agus Wahidin, masa depan bonsai Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas pohon yang dipamerkan, melainkan juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Karena itu, pembinaan generasi muda dan penguatan komunitas menjadi agenda penting yang terus didorong.
Melalui kolaborasi antara penghobi, petani, seniman, dan organisasi, ia optimistis bonsai akan terus tumbuh menjadi kekuatan budaya sekaligus ekonomi masyarakat.
Dari Sumedang, bonsai tidak lagi sekadar tanaman dalam pot. Ia telah menjelma menjadi simbol kreativitas, ketekunan, kebersamaan, dan peluang ekonomi yang mampu mengangkat nama daerah hingga tingkat nasional. (ES/NR01)