
Kepala Sekolah Bangun Garasi Persib Bernilai Ratusan Juta demi Kecintaan kepada Maung Bandung
SUMEDANG, Narasi.id – Kepala sekolah di Kabupaten Sumedang membangun Garasi Persib bernilai ratusan juta rupiah sebagai wujud kecintaan kepada Maung Bandung. Bukan sekadar bangunan biasa, tempat ini dirancang sebagai ruang silaturahmi bagi para bobotoh yang memiliki kecintaan mendalam terhadap klub kebanggaan Jawa Barat itu.
Garasi Persib berlokasi di kawasan Pengkolan Kampung Desakolot, Desa Baginda, Kecamatan Sumedang Selatan. Lokasi yang dahulu lebih dikenal sebagai Pengkolan Wijaya itu kini lebih populer dengan sebutan Pengkolan Persib, dan telah menjadi salah satu ikon baru bagi para pecinta Maung Bandung di wilayah Sumedang.
Bangunan ini sengaja didirikan untuk mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan Persib Bandung, mulai dari nonton bareng pertandingan, diskusi sepak bola, hingga silaturahmi sesama bobotoh. Kehadirannya menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sarana mempererat persaudaraan dan membangun kebersamaan antar warga.
Kepala sekolah juga dikenal aktif dalam organisasi BOBOKO (Bobotoh Kolot Persib) Distrik Sumedang, komunitas bobotoh yang dibina langsung oleh Bupati Sumedang. Keterlibatannya di organisasi tersebut semakin memperkuat dedikasinya dalam menjaga semangat persatuan di kalangan pendukung Persib.
Menariknya, kecintaan terhadap Persib sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pribadinya. Dengan nada bercanda, ia mengaku kerap mengalah kepada istri dalam berbagai urusan rumah tangga. Namun ada satu pengecualian yang tidak bisa ditawar.
“Sebetulnya saya termasuk laki-laki yang sering mengalah kepada istri. Tapi satu-satunya hal yang bisa membuat saya berani berdebat adalah urusan Persib. Kalau istri sedang menonton sinetron lalu Persib bermain, saya pasti memilih menonton Persib. Begitu juga kalau ada rencana belanja ke supermarket saat jadwal pertandingan Persib, saya lebih memilih menyaksikan pertandingan terlebih dahulu,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menegaskan bahwa Garasi Persib dibangun bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai rumah bersama bagi seluruh bobotoh. Kecintaan kepada Persib, menurutnya, harus diwujudkan dalam kegiatan yang positif dan memperkuat persaudaraan.
“Garasi Persib ini kami bangun sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan memperkuat tali silaturahmi. Persib telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Jawa Barat. Karena itu kami ingin menghadirkan ruang yang bisa menyatukan para bobotoh dalam suasana yang nyaman dan penuh kekeluargaan,” ungkapnya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa Persib Bandung bukan sekadar klub sepak bola. Di mata para pendukung setianya, Persib adalah kebanggaan, identitas, sekaligus perekat sosial yang mampu menyatukan berbagai kalangan. Dari stadion hingga pelosok kampung, semangat Maung Bandung terus hidup di hati para bobotoh. (ES/NR01)