
SMAN 1 Sumedang Ubah Kebersihan Jadi Fondasi Pendidikan Karakter
SUMEDANG, Narasi.id – Di balik halaman yang tertata rapi dan sudut-sudut kelas yang terbebas dari sampah, tersimpan pergeseran paradigma yang lebih dalam. SMAN 1 Sumedang tidak sekadar membenahi estetika lingkungan, melainkan merekonstruksi fondasi pendidikan karakternya secara menyeluruh.
Transformasi ini digerakkan oleh Kepala SMAN 1 Sumedang, Titin Suryati Sukmadewi, S.Si., M.Pd., yang menempatkan kebersihan bukan sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai instrumen pedagogis yang menyatu dengan iklim belajar sekolah.
Kebersihan sebagai Hidden Curriculum
Bagi Titin, lingkungan fisik yang sehat memiliki korelasi langsung dengan kualitas proses belajar-mengajar sekaligus pembentukan perilaku peserta didik. Gerakan kebersihan yang diinisiasinya dirancang sebagai strategi pedagogis yang berakar pada kebijakan pendidikan nasional, bukan sekadar respons terhadap kondisi visual sekolah.
“Kami memandang kebersihan sebagai hidden curriculum yang memiliki daya bentuk terhadap karakter siswa. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, aktivitas sederhana seperti membersihkan lingkungan sekolah merupakan praktik kontekstual dari nilai-nilai profil lulusan Pancasila seperti gotong royong, kemandirian, dan bernalar kritis,” ujar Titin.
Ia mendasarkan gerakan ini pada amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa sekolah bertanggung jawab tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk habitus. Kebiasaan menjaga kebersihan, dalam konteks ini, adalah bagian nyata dari pembentukan karakter.
Komitmen itu bukan tanpa pembuktian. SMAN 1 Sumedang telah meraih juara dalam ajang Pendidikan Karakter Panca waluya tingkat KCD Wilayah 8, pengakuan institusional atas konsistensi sekolah dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter secara nyata. Panca waluya sendiri merupakan konsep pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Sunda yang menghendaki terbentuknya insan yang cageur, bageur, bener, pinter, tur singer, sehat, baik, benar, cerdas, dan tanggap terhadap lingkungan.
Namun di level implementasi, tantangan muncul bukan dari siswa, melainkan dari konsistensi sistem. Pemilahan sampah yang sudah dijalankan siswa kerap tidak dilanjutkan oleh petugas kebersihan.
“Misalnya anak sudah memilah sampah saat membuang, tetapi oleh caraka justru disatukan kembali. Ini harus menjadi perhatian serius dan dilakukan secara masif, termasuk melibatkan dinas lingkungan hidup,” ungkap Titin.
Fenomena ini, menurutnya, masih jamak terjadi di banyak sekolah sehingga edukasi pemilahan sampah kepada siswa menjadi tidak efektif.
Dari Seremonial ke Budaya
Yang membedakan gerakan ini adalah pendekatannya. Bukan seremonial, melainkan rutinitas terstruktur yang melibatkan siswa, guru, dan tenaga kependidikan secara bersama. Kondisi ini melahirkan sense of belonging yang memperkuat keterlibatan seluruh warga sekolah.
Dalam spirit Panca waluya, pendekatan ini sejalan dengan argumen klasik pedagogi bahwa karakter tumbuh bukan melalui ceramah, melainkan melalui praktik langsung yang berulang dan bermakna. SMAN 1 Sumedang memposisikan kebersihan sebagai medium pembelajaran yang hidup, ruang di mana nilai-nilai profil lulusan Pancasila dipraktikkan, bukan sekadar dihafal.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sekolah yang dikelola dengan visi utuh mampu menjadi ruang pembentukan budaya positif yang berkelanjutan. Namun konsistensi lintas aktor tetap menjadi kunci agar pendidikan karakter tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjelma menjadi kebiasaan kolektif yang hidup dalam keseharian warga sekolah. (ES/NR01)