Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Login
narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Login
Home/Catatan Elang Salamina/Kekuasaan Tidak Diimbangi Integritas Hanya Melahirkan Administrasi Tanpa Legitimasi
Catatan Elang SalaminaOpini

Kekuasaan Tidak Diimbangi Integritas Hanya Melahirkan Administrasi Tanpa Legitimasi

By Elang Salamina
Agustus 27, 2026 3 Min Read
0

PEJABAT publik bukan sekadar pemegang jabatan administratif. Pada dirinya melekat mandat konstitusional, kepercayaan masyarakat, dan tanggung jawab moral untuk memastikan kekuasaan digunakan bagi kepentingan publik. Perilaku seorang pimpinan daerah, pejabat birokrasi, maupun wakil rakyat karena itu tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan pribadi. Ketika jabatan publik dibawa ke ruang tindakan yang tercela, dampaknya menjalar jauh melampaui persoalan personal dan berubah menjadi persoalan etik yang menyentuh legitimasi institusi.

Masyarakat tidak semata menilai pejabat dari keberhasilan membangun infrastruktur atau menjalankan program pemerintahan. Publik juga membaca bagaimana kekuasaan itu digunakan, bagaimana pejabat memperlakukan hukum, dan apakah perilakunya konsisten dengan nilai kepatutan yang selama ini ia tuntut dari masyarakat yang dipimpinnya.

Batas Antara Ruang Privat dan Tanggung Jawab Publik

Ada kecenderungan sebagian pejabat memandang kehidupan di luar kantor sebagai wilayah privat yang tidak berkaitan dengan kedudukannya. Pandangan ini perlu dikoreksi secara konseptual. Memang tidak semua persoalan pribadi seorang pejabat otomatis menjadi persoalan publik. Namun begitu tindakan tersebut bersinggungan dengan penyalahgunaan kewenangan, fasilitas negara, institusi pemerintahan, bawahan, atau pihak yang berada dalam relasi kuasa, persoalannya berubah sifat menjadi persoalan etik dan kepentingan publik.

Jabatan publik tidak boleh digunakan sebagai tameng untuk menghindari pertanggungjawaban ketika kewenangan dan fasilitas publik ikut terseret dalam sebuah persoalan. Logikanya bersifat proporsional: semakin tinggi posisi seseorang, semakin tinggi pula standar kepatutan yang melekat kepadanya. Prinsip ini menjadi fondasi bagi apa yang dalam kajian tata kelola pemerintahan disebut sebagai heightened duty of care bagi pemegang otoritas publik.

Krisis Kepercayaan sebagai Ancaman Struktural

Kerusakan terbesar akibat perilaku tercela pejabat bukan semata jatuhnya reputasi individu, melainkan terkikisnya kepercayaan terhadap institusi. Masyarakat dapat menerima kritik terhadap pemerintah, bahkan menerima kegagalan sebuah program apabila kegagalan itu dijelaskan secara terbuka dan dipertanggungjawabkan. Namun masyarakat akan sulit menerima kesan bahwa hukum, etika, dan kekuasaan memiliki standar berbeda antara rakyat biasa dan pejabat.

Pada titik itulah lahir sinisme publik, sebuah pertanyaan mendasar mengapa masyarakat harus disiplin jika mereka yang memiliki kekuasaan justru dianggap dapat mengabaikan aturan. Pertanyaan semacam ini bukan sekadar kritik, melainkan alarm bagi kesehatan demokrasi. Kepercayaan publik adalah modal sosial, dan begitu modal tersebut habis, pemerintah akan semakin sulit mengajak masyarakat membayar pajak, menaati regulasi, dan mempercayai institusi negara.

Persoalan ini juga memiliki daya reproduksi sosial. Pemimpin adalah simbol sekaligus referensi perilaku bagi lingkungan kekuasaannya. Jika penyalahgunaan kewenangan, konflik kepentingan, atau nepotisme dianggap lumrah, standar moral organisasi akan turun secara bertahap. Toleransi terhadap pelanggaran kecil melahirkan pembiaran, pembiaran melahirkan normalisasi, dan normalisasi pada akhirnya mengubah pelanggaran menjadi bagian biasa dari praktik kekuasaan. Pada fase inilah pemerintahan bukan lagi menghadapi individu bermasalah, melainkan kultur kekuasaan yang bermasalah.

Pengawasan, Sanksi, dan Batas Moral Kekuasaan

Mekanisme pengawasan tidak boleh berhenti pada keberadaan lembaga dan regulasi di atas kertas. Pengawasan harus bekerja secara objektif, independen, dan proporsional, tanpa melihat pangkat maupun kedekatan politik. Prinsip equality before the law harus menjadi fondasi, sebab jabatan tidak boleh menjadi kartu bebas pemeriksaan. Sebaliknya, jabatan justru memperbesar tanggung jawab seseorang atas setiap keputusan dan tindakannya. Transparansi menjadi instrumen penting dalam kerangka ini, meski transparansi tidak boleh berubah menjadi penghakiman massa; dugaan pelanggaran tetap harus diselesaikan melalui proses hukum dan mekanisme etik yang berlaku.

Ketegasan terhadap pejabat yang terbukti bersalah merupakan kebutuhan institusional, tetapi ketegasan tidak identik dengan penghukuman tanpa proses. Prinsip negara hukum mengharuskan setiap dugaan diperiksa secara objektif dan setiap pihak memperoleh hak untuk membela diri. Jika terbukti bersalah, konsekuensinya harus nyata tanpa perlakuan istimewa. Sebaliknya, jika tuduhan tidak terbukti, institusi wajib melindungi hak dan martabat orang yang dituduh. Keadilan dengan demikian membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian menindak dan kedisiplinan mengikuti hukum.

Pengawasan terhadap pejabat publik juga bukan monopoli lembaga negara. Pers independen, masyarakat sipil, akademisi, dan warga negara memiliki hak mengkritisi kebijakan dan perilaku pejabat sepanjang berdasarkan fakta, etika, dan hukum. Media sosial harus digunakan sebagai ruang kontrol publik, bukan ruang eksekusi reputasi, karena kritik berbasis data jauh lebih bernilai daripada tuduhan yang dibangun dari asumsi.

Pada akhirnya, persoalan kepemimpinan bukan hanya tentang siapa yang memiliki kewenangan, melainkan bagaimana kewenangan itu digunakan. Kendaraan dinas, rumah jabatan, dan akses birokrasi bukan simbol keistimewaan pribadi, melainkan konsekuensi dari mandat publik. Kepemimpinan yang sehat bukan kepemimpinan yang takut dikritik, melainkan kepemimpinan yang mampu mempertanggungjawabkan dirinya ketika dikritik. Bagi pejabat publik, terutama mereka yang menduduki posisi strategis dalam pemerintahan daerah, pesannya sederhana: kekuasaan boleh tinggi, tetapi standar etik harus lebih tinggi. Sebab ketika hukum dilanggar, negara masih memiliki instrumen untuk menindak, tetapi ketika kepercayaan publik runtuh, memperbaikinya membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. (ES/NR01)

Tags:

Akuntabilitasbirokrasietika pejabat publikGood GovernanceintegritaskepemimpinanKepercayaan Publikpengawasan pemerintahan
Author

Elang Salamina

Follow Me
Other Articles
Previous

Banjir Bandang Nepal-Tibet: Tragedi Alam dan Alarm Kesiapsiagaan Dunia

Next

Krisis Kepercayaan di Balik Sanksi Sosial Pejabat Publik

No Comment! Be the first one.

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Recent Posts

    • HUT ke-62 Golkar, Bunda Bilqis Pimpin Ziarah ke Taman Makam Pahlawan Sumedang
    • PLN IP UBP Jatigede Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Pegawai TAD
    • Ayi Subhan: Liga Santri Bukan Hanya Cari Gol tapi Cari Saudara
    • Liga Santri Mini Soccer 2026 Resmi Dibuka di Sumedang, Bupati Harapkan Lahirnya Bintang Sepak Bola dari Pesantren
    • Aula Ponpes An-Nur Sumedang Terbakar, Atap Runtuh dan Santri Dievakuasi

    Recent Comments

    Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

    Archives

    • Oktober 2026
    • September 2026
    • Agustus 2026
    • Juli 2026
    • Juni 2026
    • Mei 2026
    • April 2026

    Categories

    • Advetorial
    • Baznas Sumedang
    • Bunda Bilqis
    • Catatan Elang Salamina
    • Detail Berita
    • Editorial
    • Hukum
    • Internasional
    • Isu Panas
    • Kabar Baznas
    • KABAR BAZNAS SUMEDANG
    • Kabar Desa
    • Kabar Parlemen
    • Kabar Sumedang
    • Olahraga
    • Opini
    • Parlemen
    • Pemerintahan
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    • Politik
    • Sepak bola
    • Sosok
    • Sosok Inspiratif
    • Uncategorized
    Hey, I’m Alex. I build frontend experiences and dive into tech, business, and wellness.
    • X
    • Instagram
    • Facebook
    • YouTube
    Work Experience

    Velora Labs

    Frontend Developer

    2021-present

    Luxora Digital

    Web Developer

    2019-2021

    Averion Studio

    Support Specialist

    2017-2019

    Available for Hire
    Get In Touch

    Recent Posts

    • HUT ke-62 Golkar, Bunda Bilqis Pimpin Ziarah ke Taman Makam Pahlawan Sumedang
      oleh Elang Salamina
      Oktober 20, 2026
    • Baznas Sumedang Salurkan Bantuan Material untuk Rumah Ambruk di Pesanggrahan Baru
      oleh Elang Salamina
      April 13, 2026
    • Sonia Sugian : Politik Berprestasi dan Membanggakan Sumedang
      oleh Elang Salamina
      April 13, 2026
    • Sonia Sugian Dorong Mahasiswa Al-Azhar Pulang Bangun Indonesia Emas 2045 Lewat Dialog di KBRI Kairo
      oleh Elang Salamina
      April 14, 2026

    Search...

    Technologies

    Figma

    Collaborate and design interfaces in real-time.

    Notion

    Organize, track, and collaborate on projects easily.

    DaVinci Resolve 20

    Professional video and graphic editing tool.

    Illustrator

    Create precise vector graphics and illustrations.

    Photoshop

    Professional image and graphic editing tool.

    Latest Posts

    • Zeni Bima Akui Kontak RY, Masalah Makin Kabur
      POLEMIK yang menyeret nama Wabup Sumedang belum juga menemukan pintu… Baca Selengkapnya: Zeni Bima Akui Kontak RY, Masalah Makin Kabur
    • Yuslita Sumartini Bilqis, SM : Dari Dunia Usaha Menuju Sosok Perempuan Berpengaruh di Sumedang
      NAMA Yuslita Sumartini Bilqis, yang akrab disapa Bunda Bilqis, kini… Baca Selengkapnya: Yuslita Sumartini Bilqis, SM : Dari Dunia Usaha Menuju Sosok Perempuan Berpengaruh di Sumedang
    • Warga Dusun Cijelag Bangun Gapura Secara Swadaya, Bukti Nyata Kepedulian Lingkungan di Sumedang
      SUMEDANG, Narasi.id — Kepedulian warga Dusun Cijelag, Desa Tomo, Kecamatan… Baca Selengkapnya: Warga Dusun Cijelag Bangun Gapura Secara Swadaya, Bukti Nyata Kepedulian Lingkungan di Sumedang

    Contact

    Phone

    +342348343

    +348796543

    Email

    hi@blogsy.com

    support@blogsy.com

    Location

    New York, USA

    Copyright 2026 — Narasi.ID. All rights reserved.