
DLHK Sumedang dan Wajah Pelayanan yang Hadir di Jalanan
ADA satu hal yang sering luput dari perhatian publik ketika membicarakan keberhasilan pembangunan daerah yaitu kebersihan lingkungan. Padahal, wajah pertama sebuah daerah justru terlihat dari jalanannya, trotoarnya, saluran airnya, hingga bagaimana sampah dikelola setiap hari. Kebersihan bukan sekadar urusan estetika kota, melainkan cermin keseriusan pemerintah dalam menghadirkan pelayanan yang nyata dan terasa.
Di Kabupaten Sumedang, arah itu mulai terlihat semakin jelas. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan bukan hanya bergerak sebagai institusi administratif, tetapi mulai menunjukkan watak pelayanan yang lebih responsif dan membumi. Program penguatan armada pengangkutan sampah, pengembangan bank sampah, edukasi lingkungan hingga penataan kebersihan ruas jalan menjadi indikator bahwa persoalan lingkungan kini dipandang sebagai isu strategis, bukan sekadar pekerjaan rutin birokrasi.
Hal menariknya terletak pada pola kepemimpinan yang dibangun di internal DLHK Sumedang. Di bawah kepemimpinan Maman Wasman, kultur kerja lapangan terlihat semakin hidup. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat struktural yang bekerja dari balik meja, tetapi juga kerap turun langsung ke lapangan bersama pasukan kuning. Dalam perspektif manajemen pemerintahan, pola seperti ini memiliki dampak psikologis yang besar terhadap etos kerja bawahan.
Kepemimpinan yang hadir di tengah pekerja lapangan menciptakan rasa dihargai sekaligus rasa memiliki terhadap pekerjaan. Ini penting, sebab pekerjaan kebersihan sering kali menjadi sektor yang minim apresiasi padahal dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari. Ketika pimpinan hadir bersama mereka, maka lahir solidaritas kerja yang tidak dibangun lewat formalitas birokrasi, tetapi melalui keteladanan.
Tak berlebihan jika kemudian pasukan kuning DLHK Sumedang terlihat bekerja nyaris tanpa mengenal waktu. Pagi buta mereka sudah berada di ruas jalan, membersihkan sampah, memastikan kota tetap tertata. Bahkan dalam momentum libur sekalipun, ritme kerja mereka tetap berjalan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan tidak bisa dikelola dengan pendekatan kerja biasa. Ia membutuhkan konsistensi, disiplin dan mental pelayanan.
Dalam konteks pembangunan daerah, apa yang dilakukan DLHK sesungguhnya memiliki efek sosial yang luas. Lingkungan yang bersih bukan hanya membuat kota nyaman dipandang, tetapi juga membentuk budaya masyarakat. Kota yang bersih akan mendorong masyarakat lebih disiplin membuang sampah, lebih peduli terhadap ruang publik dan lebih menghargai fasilitas umum. Dengan kata lain, kebersihan adalah pintu masuk membangun peradaban sosial.
Di sinilah relevansi program Pemerintah Daerah Sumedang dengan spirit “Simpati” yakni kadeuleu, karasa, karampa menemukan bentuk nyatanya. Pemerintahan tidak cukup hanya menghasilkan program di atas kertas. Masyarakat ingin melihat hasilnya, merasakan manfaatnya dan menyaksikan kehadiran pemerintah secara konkret dalam kehidupan sehari hari.
DLHK Sumedang tampaknya sedang bergerak ke arah itu. Kerja kerja kebersihan yang dilakukan mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki makna besar dalam membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah. Sebab masyarakat sering kali menilai pemerintah bukan dari pidato atau narasi besar, melainkan dari hal hal kecil yang langsung mereka rasakan setiap hari.
Tentu tantangan ke depan masih besar. Persoalan sampah akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Karena itu, keberhasilan pengelolaan lingkungan tidak cukup hanya bertumpu pada petugas kebersihan. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat hingga dunia usaha agar kesadaran menjaga lingkungan menjadi budaya bersama.
Namun setidaknya, apa yang dilakukan DLHK Sumedang hari ini memberi pesan penting bahwa pelayanan publik yang baik selalu dimulai dari keteladanan. Dan ketika pemimpin mau turun ke jalan bersama pekerjanya, maka birokrasi tidak lagi terasa jauh dari rakyat. (ES/NR01)