
Infrastruktur Jadi Basis Transformasi Pembelajaran, Disdik Sumedang Prioritaskan Sekolah Paling Mendesak
SUMEDANG, Narasi.id — Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang menegaskan bahwa program Sarana dan Prasarana (Sapras) tahun 2026 bukan sekadar agenda pembangunan fisik rutin. Program ini dirancang sebagai fondasi strategis untuk mendorong transformasi kualitas pembelajaran di seluruh jenjang pendidikan.
Kasi Pengembangan Sapras SMP, PAUD, dan Dikmas Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Taufik, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa dikotomi lama yang memisahkan pembangunan fisik dari peningkatan mutu pendidikan sudah saatnya diakhiri.
“Lingkungan belajar yang buruk terbukti membatasi daya serap siswa, menurunkan motivasi, bahkan berdampak langsung pada kesehatan mereka. Sebaliknya, ruang yang layak mampu memperkuat interaksi belajar, membangun disiplin, dan menciptakan suasana akademik yang lebih kondusif,” ujar Taufik.
Ia menjelaskan, revitalisasi sarana prasarana tidak dilakukan secara seragam di semua sekolah. Pendekatannya berbasis kebutuhan riil di lapangan, dengan memprioritaskan sekolah yang kondisinya paling mendesak.
“Kami tidak meratakan anggaran begitu saja. Sekolah yang paling membutuhkan mendapat perhatian pertama. Dengan pola ini, intervensi anggaran menjadi lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih besar terhadap kualitas layanan pendidikan,” jelas Taufik.
Menurut Taufik, dampak program ini juga melampaui aspek teknis semata. Ketika sekolah bertransformasi menjadi lebih layak, kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah ikut tumbuh.
“Orang tua mulai melihat keseriusan nyata pemerintah dalam menjamin masa depan pendidikan anak-anak mereka. Guru pun mendapatkan ruang kerja yang lebih mendukung, yang pada akhirnya berpengaruh langsung pada kualitas pengajaran,” tambahnya.
Dalam perspektif pembangunan jangka panjang, Taufik menyebut program Sapras sebagai investasi strategis yang tak ternilai. Infrastruktur pendidikan yang baik, menurutnya, akan melahirkan generasi yang lebih siap secara akademik maupun karakter.
“Sapras bukan tujuan akhir. Ia adalah fondasi awal dari transformasi yang lebih luas. Pendidikan berkualitas harus dimulai dari hal paling nyata, yaitu memastikan setiap anak belajar di ruang yang layak, sehat, dan bermartabat,” pungkas Taufik. (ES/NR01)