Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Login
narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

narasi.site narasi.site narasi.site

Menyajikan Narasi Berita Terbaru dan Akurat

  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Detail Berita
  • Kontak & Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Login
Home/Catatan Elang Salamina/Jelang Musda XI Golkar Sumedang,  Adu Gagasan vs Perang Persepsi 
Catatan Elang SalaminaOpiniPolitik

Jelang Musda XI Golkar Sumedang,  Adu Gagasan vs Perang Persepsi 

By Elang Salamina
September 18, 2026 5 Min Read
0

MUSYAWARAH Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kabupaten Sumedang mulai memasuki fase yang menarik untuk dicermati. Kursi Ketua DPD Golkar Sumedang periode berikutnya perlahan menjadi pusat perhatian, seiring agenda Musda yang diusulkan berlangsung pada 22 September 2026.

Tanggal tersebut masih berupa usulan yang menunggu persetujuan DPD Partai Golkar Jawa Barat. Persiapan internal sudah berjalan lebih dulu. Rapat pleno diperluas telah membentuk Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC), dengan Asep Kurnia ditetapkan sebagai Ketua SC. Mesin organisasi, dengan kata lain, sudah mulai dipanaskan. Sebagaimana lazimnya kontestasi politik internal, ketika mesin mulai bergerak, suara-suara dari luar arena biasanya ikut meninggi.

Sejumlah nama sejauh ini disebut-sebut masuk dalam bursa: Asep Kurnia, S.H., M.H.; Yuslita Sumartini Bilqis, S.M.; Sonia Sugian, S.H., M.H., M.Tr.IP; Yogi Yaman Sentosa; dan Ir. Ari Budiman, S.T., M.T. Nama Sidik Jafar, S.E. juga masih menjadi bagian dari perbincangan, meskipun rekam jejaknya memimpin DPD Golkar Sumedang selama dua periode membuat kemungkinan pencalonan ulangnya bergantung pada ketentuan dan mekanisme internal partai, termasuk kemungkinan diskresi.

Perlu digarisbawahi, nama-nama tersebut lebih tepat disebut sebagai figur yang diperbincangkan, bukan seluruhnya calon resmi. Musda memiliki mekanisme organisasi tersendiri, dan keputusan formal tetap berada di dalam forum serta aturan partai. AD/ART Golkar menempatkan Musda Kabupaten/Kota sebagai pemegang kekuasaan partai di tingkat daerah, salah satu kewenangannya adalah memilih dan menetapkan Ketua DPD. Peserta Musda pun bukan sekadar massa pendukung personal, melainkan unsur-unsur organisasi yang telah ditentukan aturan partai.

Di titik inilah persoalannya mulai menarik.

Ketika Framing Mendahului Fakta 

Kompetisi politik tidak selalu berlangsung di ruang rapat. Ia kadang pindah ke ruang publik, ke percakapan internal, bahkan ke akun media sosial yang identitas pengelolanya tidak sepenuhnya jelas. Menjelang Musda XI, gejala semacam itu mulai terasa: sebuah akun relatif baru tampil cukup intens mengangkat isu-isu seputar Musda.

Dari permukaan, kontennya terlihat seperti upaya memberi informasi kepada publik. Begitu pola pemberitaannya dibaca lebih kritis, pertanyaan yang sah pun muncul: apakah akun tersebut benar-benar hadir sebagai kanal informasi, atau justru menjadi instrumen komunikasi politik untuk membentuk persepsi tertentu?

Pertanyaan ini penting bukan karena akun tersebut pasti menyimpan agenda tersembunyi, sebab hal itu belum dapat dibuktikan, melainkan karena dalam kontestasi politik, siapa yang memilih isu, siapa yang menentukan sudut pandang, dan siapa yang terus-menerus disorot pada akhirnya ikut membentuk cara publik membaca sebuah peristiwa.

Media sosial bekerja dengan logika berbeda dari forum organisasi. Di ruang Musda, seseorang harus berhadapan dengan aturan, forum, dan mekanisme pengambilan keputusan. Di media sosial, persepsi bisa terbangun lebih dulu, jauh sebelum fakta lengkap tersedia. Itulah yang disebut framing, realitas yang sama bisa melahirkan persepsi yang berbeda ketika disusun dari sudut pandang yang berbeda pula.

Konten yang tampak objektif tidak otomatis objektif. Objektivitas bukan sekadar soal tidak menyebut nama secara negatif, melainkan menyangkut pemilihan fakta, frekuensi pemberitaan, konteks yang disertakan, konteks yang sengaja dihilangkan, serta konsistensi standar ketika membahas setiap figur.

Kritik terhadap para kandidat, jika memang ada, merupakan bagian wajar dari demokrasi internal. Kandidat semestinya siap diuji. Rekam jejak boleh dibedah, kapasitas organisasi boleh dipertanyakan, pengalaman politik boleh diperbandingkan. Ada satu garis yang sebaiknya tidak dilewati: kritik berhenti menjadi kritik ketika berubah menjadi konstruksi narasi yang sengaja diarahkan untuk merusak reputasi tanpa dasar memadai, apalagi bila standar yang dipakai berbeda-beda. Satu kandidat dibedah sampai hal-hal kecil, kandidat lain hanya ditampilkan dari sisi positifnya. Satu figur ditanya soal masa lalu, figur lain dibiarkan lewat tanpa pertanyaan setara.

Bila pola seperti itu terjadi, publik berhak bertanya: yang sedang berlangsung ini jurnalisme, kritik politik, atau kampanye terselubung? Kesimpulan semacam itu tentu tidak boleh ditarik hanya dari dugaan. Diperlukan bukti soal siapa pengelola akun, siapa yang membiayai, siapa yang memasok materi, dan kepada siapa arah kepentingan komunikasinya ditujukan. Selama itu belum diketahui, sikap paling sehat adalah tidak menelan mentah-mentah narasi apa pun yang beredar.

Ukuran Kedewasaan Sebuah Kontestasi

Musda seharusnya bukan sekadar arena perebutan kursi. Ia adalah forum untuk menentukan bagaimana Golkar Sumedang mengelola organisasi, membangun kaderisasi, menghadapi dinamika politik lokal, dan menyiapkan agenda ke depan. Kualitas Musda semestinya tidak diukur hanya dari siapa yang akhirnya duduk di kursi ketua, melainkan dari bagaimana proses menuju keputusan itu berlangsung: apakah kontestasi berjalan terbuka, apakah setiap kandidat mendapat ruang yang relatif adil untuk menyampaikan gagasan, dan apakah seluruh energi politik yang terpakai untuk berkompetisi dapat dikembalikan menjadi energi untuk membangun organisasi setelah palu diketuk.

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih substansial dibanding sekadar menghitung siapa yang paling ramai disebut di media sosial. Organisasi politik, pada akhirnya, tidak dibangun dari jumlah unggahan, melainkan dari struktur, kader, kerja politik, konsolidasi, dan kepercayaan.

Munculnya lima nama dalam percakapan menjelang Musda menunjukkan bahwa regenerasi dan kompetisi kepemimpinan sedang menjadi perhatian serius. Masing-masing kandidat membawa latar belakang, jaringan, dan karakter politik yang berbeda, sehingga perdebatan akan jauh lebih produktif bila diarahkan pada pertanyaan substantif: apa visi mereka untuk Golkar Sumedang, bagaimana strategi memperkuat kaderisasi, bagaimana menjaga soliditas antara struktur partai, organisasi sayap, dan kader, serta bagaimana menempatkan Golkar dalam dinamika pemerintahan daerah tanpa kehilangan fungsi kritisnya. Itulah seharusnya arena perdebatan, bukan sekadar siapa yang paling sering disebut atau paling banyak diunggah.

Perang terbuka, dalam politik, kerap justru lebih sehat daripada perang bayangan. Dalam perang terbuka, siapa berhadapan dengan siapa terlihat jelas, argumen dapat diuji, pernyataan dapat dikonfirmasi. Perang bayangan sebaliknya bekerja lewat insinuasi, potongan informasi, akun anonim, dan narasi setengah lengkap yang diulang-ulang. Ia seperti kabut tipis di jalan setapak, tidak cukup tebal untuk menghentikan langkah, tapi cukup untuk mengaburkan arah.

AD/ART Golkar sendiri menegaskan kewajiban anggota menjunjung nama dan kehormatan partai serta memegang teguh aturan organisasi. Bila benar ada upaya saling menjatuhkan, tantangan terbesarnya bukan menentukan siapa paling lihai memainkan narasi, melainkan apakah seluruh kandidat dan pendukungnya mampu menunjukkan diri lebih besar daripada kontestasi itu sendiri.

Musda pada akhirnya akan melahirkan sebuah keputusan organisasi. Siapa pun yang memperoleh mandat akan menghadapi pekerjaan yang jauh lebih berat daripada memenangkan kontestasi, yakni menyatukan kembali seluruh elemen yang sebelumnya berbeda pilihan. Setelah palu Musda diketuk, tidak ada lagi kubu A, kubu B, atau kubu C, yang tersisa hanya satu organisasi. Ketua yang baik bukan hanya mereka yang piawai mengumpulkan dukungan sebelum pemilihan, melainkan yang mampu merangkul mereka yang sebelumnya berada di barisan berbeda.

Musda XI Golkar Sumedang semestinya tidak terjebak menjadi pertandingan tentang siapa paling berhasil menjatuhkan lawan. Biarkan ia menjadi pertandingan gagasan, tempat rekam jejak diuji oleh publik, gagasan diuji oleh kader, dan kapasitas diuji oleh organisasi. Kursi ketua, pada akhirnya, hanya sebuah posisi. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan orang yang duduk di atasnya menjaga pohon beringin tetap berakar kuat, berbatang kokoh, dan berdahan cukup lebar untuk menaungi seluruh kader.

Ukuran paling sederhana dari kedewasaan sebuah kontestasi barangkali bukan seberapa keras para kompetitor saling menyerang sebelum Musda, melainkan seberapa cepat mereka mampu duduk kembali bersama setelah semuanya usai. (Elang Salamina)

Tags:

DPD Golkarframing media sosialGolkar Sumedangkontestasi internal partaiMusda XIpolitik lokal Sumedang
Author

Elang Salamina

Follow Me
Other Articles
Previous

Rekonstruksi Jalan Cijeungjing–Cihideung, Binamarga PUTR Sumedang Perketat Pengawasan Kualitas

Next

Sumedang Sehat, Ketika Zakat Tak Berhenti di Kotak Amal 

No Comment! Be the first one.

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Recent Posts

    • Revitalisasi SDN Pakuwon 1 dan 2 Sesuai RAB, Progres Pembangunan Memuaskan
    • H. Mulyana Nomor Urut 2 Usung Keberlanjutan Pembangunan untuk Cigendel Lebih Maju
    • Dari Rumah Bunda Bilqis, Pesan Migrasi Aman Menggema
    • Sumedang Sehat, Ketika Zakat Tak Berhenti di Kotak Amal 
    • Jelang Musda XI Golkar Sumedang,  Adu Gagasan vs Perang Persepsi 

    Recent Comments

    Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

    Archives

    • September 2026
    • Agustus 2026
    • Juli 2026
    • Juni 2026
    • Mei 2026
    • April 2026

    Categories

    • Advetorial
    • Baznas Sumedang
    • Catatan Elang Salamina
    • Detail Berita
    • Editorial
    • Hukum
    • Internasional
    • Isu Panas
    • Kabar Baznas
    • KABAR BAZNAS SUMEDANG
    • Kabar Desa
    • Kabar Parlemen
    • Kabar Sumedang
    • Olahraga
    • Opini
    • Parlemen
    • Pemerintahan
    • Pendidikan
    • Politik
    • Sepak bola
    • Sosok
    • Sosok Inspiratif
    • Uncategorized
    Hey, I’m Alex. I build frontend experiences and dive into tech, business, and wellness.
    • X
    • Instagram
    • Facebook
    • YouTube
    Work Experience

    Velora Labs

    Frontend Developer

    2021-present

    Luxora Digital

    Web Developer

    2019-2021

    Averion Studio

    Support Specialist

    2017-2019

    Available for Hire
    Get In Touch

    Recent Posts

    • Revitalisasi SDN Pakuwon 1 dan 2 Sesuai RAB, Progres Pembangunan Memuaskan
      oleh Elang Salamina
      September 19, 2026
    • Baznas Sumedang Salurkan Bantuan Material untuk Rumah Ambruk di Pesanggrahan Baru
      oleh Elang Salamina
      April 13, 2026
    • Sonia Sugian : Politik Berprestasi dan Membanggakan Sumedang
      oleh Elang Salamina
      April 13, 2026
    • Sonia Sugian Dorong Mahasiswa Al-Azhar Pulang Bangun Indonesia Emas 2045 Lewat Dialog di KBRI Kairo
      oleh Elang Salamina
      April 14, 2026

    Search...

    Technologies

    Figma

    Collaborate and design interfaces in real-time.

    Notion

    Organize, track, and collaborate on projects easily.

    DaVinci Resolve 20

    Professional video and graphic editing tool.

    Illustrator

    Create precise vector graphics and illustrations.

    Photoshop

    Professional image and graphic editing tool.

    Latest Posts

    • Zeni Bima Akui Kontak RY, Masalah Makin Kabur
      POLEMIK yang menyeret nama Wabup Sumedang belum juga menemukan pintu… Baca Selengkapnya: Zeni Bima Akui Kontak RY, Masalah Makin Kabur
    • Yuslita Sumartini Bilqis, SM : Dari Dunia Usaha Menuju Sosok Perempuan Berpengaruh di Sumedang
      NAMA Yuslita Sumartini Bilqis, yang akrab disapa Bunda Bilqis, kini… Baca Selengkapnya: Yuslita Sumartini Bilqis, SM : Dari Dunia Usaha Menuju Sosok Perempuan Berpengaruh di Sumedang
    • Warga Dusun Cijelag Bangun Gapura Secara Swadaya, Bukti Nyata Kepedulian Lingkungan di Sumedang
      SUMEDANG, Narasi.id — Kepedulian warga Dusun Cijelag, Desa Tomo, Kecamatan… Baca Selengkapnya: Warga Dusun Cijelag Bangun Gapura Secara Swadaya, Bukti Nyata Kepedulian Lingkungan di Sumedang
    Copyright 2026 — Narasi.ID. All rights reserved.