
BAZNAS Sumedang dan Ikhtiar Menjaga Anak Miskin Tetap Sekolah
KEMISKINAN sering menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ketika penghasilan keluarga terbatas, biaya sekolah kerap menjadi beban yang sulit dipenuhi. Di titik inilah BAZNAS Sumedang hadir mengambil peran, menjadikan zakat bukan sekadar dana yang selesai begitu disalurkan, melainkan kekuatan pemberdayaan yang menjaga agar keterbatasan ekonomi tidak menghentikan langkah anak dalam mengenyam pendidikan.
Ragam Bantuan dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi
Komitmen tersebut diwujudkan lewat Program Sumedang Cerdas. Di bawah kepemimpinan Ketua BAZNAS Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas, pendidikan menjadi salah satu sektor prioritas dalam penyaluran zakat. Programnya pun beragam, tidak terpaku pada satu bentuk bantuan saja.
Setiap awal tahun ajaran baru, orang tua biasanya dihadapkan pada banyak kebutuhan sekaligus: seragam, buku, perlengkapan belajar, hingga biaya sekolah. BAZNAS Sumedang menjawab momen ini lewat bantuan pendidikan berbasis permohonan, yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak. Siswa SD menerima Rp350.000, siswa SMP Rp500.000, siswa SMA Rp750.000, dan mahasiswa Rp1 juta. Skema berjenjang ini memungkinkan keluarga mengajukan bantuan sesuai kebutuhan anak masing-masing.
Bagi mahasiswa, tantangan ekonomi kerap justru meningkat setelah lulus SMA atau SMK. BAZNAS Sumedang menjawabnya lewat Beasiswa Mahasiswa Darma Insani, yang menyasar mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Bantuan juga hadir dalam bentuk lain. Menjelang tahun ajaran baru 2026, BAZNAS Sumedang menyalurkan perlengkapan sekolah bagi anak-anak yatim, bukti bahwa dukungan pendidikan tidak selalu berbentuk uang. Ada pula program BAZNAS Goes To School, yang mempertemukan lembaga zakat dengan sekolah, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan jaringan Unit Pengumpul Zakat. Lewat program ini, BAZNAS Sumedang pernah mengalokasikan sekitar Rp2 miliar bantuan pendidikan bagi siswa di Kabupaten Sumedang, menunjukkan bahwa pendidikan bisa menjadi gerakan bersama, bukan kerja satu lembaga saja.
Dari bantuan berbasis permohonan, beasiswa, perlengkapan sekolah, hingga kolaborasi lintas lembaga, semua program ini berpijak pada satu tujuan: memastikan keterbatasan ekonomi tidak memutus jalan pendidikan seorang anak.
Zakat sebagai Investasi Masa Depan Sumedang
Di balik semua program ini, kepemimpinan H. Ayi Subhan Hafas menjadi kunci. Sebagai Ketua BAZNAS Sumedang, tugasnya bukan hanya menghimpun zakat dari masyarakat, tapi juga memastikan dana tersebut benar-benar berdampak nyata. Pendidikan dipilih sebagai sektor strategis karena manfaatnya tidak berhenti pada penerima bantuan semata.
Bantuan hari ini mungkin tampak sederhana, hanya menutup kebutuhan sekolah. Namun bila bantuan itu membuat seorang anak tetap sekolah, lalu melanjutkan pendidikan dan akhirnya mampu mandiri, dampaknya bisa dirasakan lintas generasi. Karena itu, keberhasilan program pendidikan berbasis zakat tidak cukup diukur dari jumlah bantuan. Yang lebih penting adalah apakah bantuan sampai ke keluarga yang tepat, apakah anak penerima bisa terus bersekolah, dan apakah mahasiswa penerima beasiswa mampu menyelesaikan kuliahnya.
Transparansi dan ketepatan sasaran jadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat, modal terbesar bagi lembaga zakat. Dukungan dari pemerintah daerah, sekolah, madrasah, perguruan tinggi, Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, UPZ, dan masyarakat luas juga tetap dibutuhkan agar anak-anak yang memerlukan bantuan bisa ditemukan dan didukung lebih cepat, sebelum masalah ekonomi memaksa mereka putus sekolah.
Membiarkan seorang anak kehilangan pendidikan karena kemiskinan bukan sekadar persoalan keluarga, melainkan persoalan sosial. Satu anak yang kehilangan kesempatan belajar berarti masyarakat turut kehilangan satu potensi sumber daya manusia yang bermanfaat.
Program Sumedang Cerdas dan berbagai ikhtiar BAZNAS Sumedang di bidang pendidikan karena itu layak dilihat lebih dari sekadar angka bantuan. Di baliknya ada upaya menjaga harapan, membuka kesempatan, dan memastikan pendidikan tetap menjadi jalan keluar dari kemiskinan.
Zakat berasal dari kewajiban individu, tapi manfaatnya bisa menjadi kekuatan kolektif. Ketika dikelola untuk membantu anak-anak tetap sekolah dan mahasiswa menyelesaikan kuliahnya, zakat sesungguhnya menjadi investasi sosial bagi masa depan Sumedang. Hasilnya mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika anak yang dulu menerima bantuan kini berdiri mandiri dan mampu membantu orang lain. Di situlah zakat menemukan makna terdalamnya: bukan hanya meringankan beban hari ini, tapi membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik esok hari. (Elang Salamina)