
Kepemimpinan H. Ayi Subhan Hafas Bawa BAZNAS Sumedang Naik Kelas, dari Penghimpunan hingga Pemberdayaan
SUMEDANG, Narasi.id — Mengelola zakat bukan sekadar perkara menghimpun rupiah dari para muzaki. Di balik setiap rupiah yang dititipkan masyarakat, tersimpan amanah yang jauh lebih besar: memastikan dana itu kembali kepada mereka yang berhak dan memberi dampak nyata bagi kehidupan. Di titik inilah kinerja Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sumedang, di bawah kepemimpinan H. Ayi Subhan Hafas, patut mendapat apresiasi. Bukan hanya karena deretan penghargaan yang diraih, melainkan karena pertumbuhan penghimpunan zakat, perluasan penerima manfaat, inovasi pelayanan, serta pergeseran pola penyaluran dari sekadar bantuan konsumtif menuju pemberdayaan yang berkelanjutan.
Capaian tersebut tentu bukan kerja seorang ketua seorang diri. Jajaran pimpinan, amil, Unit Pengumpul Zakat (UPZ), pemerintah daerah, para muzaki, dan masyarakat menjadi bagian penting di dalamnya. Kepemimpinan tetap memiliki peran menentukan arah, membangun kolaborasi, dan menjaga ritme organisasi. Rekam jejak Ayi layak dibaca secara proporsional dari sudut itu.
Pertumbuhan penghimpunan sebagai cermin kepercayaan publik
Indikator paling mudah dilihat dari kinerja BAZNAS Sumedang adalah kemampuannya meningkatkan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Pada 2022, penghimpunan ZIS tercatat mencapai Rp37,301 miliar, tumbuh 3,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan manfaat yang dirasakan oleh 127.854 jiwa atau lembaga. Pada 2024, angka penghimpunan melonjak menjadi sekitar Rp47 miliar, melampaui target Rp45 miliar yang dipatok.
Angka-angka tersebut bukan sekadar deretan nominal. Meningkatnya penghimpunan menunjukkan kepercayaan masyarakat yang terus dijaga, sebab tidak mudah mengajak masyarakat menyerahkan sebagian hartanya kepada sebuah lembaga apabila lembaga itu tidak mampu menunjukkan kredibilitas dan manfaat nyata. Pertumbuhan penghimpunan, dengan kata lain, adalah bagian dari cerita panjang tentang kepercayaan publik.
Dari bantuan konsumtif menuju pemberdayaan mustahik
Zakat idealnya tidak berhenti sebagai santunan sesaat. Bantuan konsumtif memang dibutuhkan ketika masyarakat berada dalam kondisi mendesak, tetapi dalam jangka panjang mustahik membutuhkan jalan keluar agar dapat berdiri lebih mandiri. Semangat itu tecermin dalam sejumlah program BAZNAS Sumedang.
Di bidang pendidikan, Program Sumedang Cerdas pada 2023 menyalurkan sekitar Rp1 miliar kepada 2.408 pelajar. Di bidang pemberdayaan ekonomi, terdapat program Z-Auto dan pengembangan Balai Ternak BAZNAS di Desa Cijeungjing, Jatigede. Model semacam ini penting karena zakat mulai ditempatkan bukan semata sebagai instrumen pengurang beban hari ini, melainkan juga sebagai modal sosial untuk memperbaiki kehidupan mustahik pada hari esok. Cita-citanya lebih besar dari itu: mustahik tidak selamanya menjadi penerima.
Ekosistem zakat sejak dini dan lompatan digitalisasi
Salah satu inovasi menarik dari BAZNAS Sumedang adalah program BAZNAS Goes To School, yang membangun budaya infak di lingkungan pendidikan melalui jaringan UPZ sekolah. Pada 2024, BAZNAS RI mencatat terdapat 1.003 UPZ yang terlibat, terdiri atas UPZ di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. BAZNAS RI bahkan memberikan apresiasi khusus dan menyebut program ini layak menjadi contoh bagi BAZNAS daerah lain, hingga BAZNAS Kabupaten Bandung datang melakukan studi tiru ke Sumedang. Sebuah inovasi memang memiliki nilai lebih ketika bukan hanya meraih penghargaan, tetapi juga membuat pihak lain datang untuk belajar.
Perubahan zaman turut menuntut lembaga zakat beradaptasi. BAZNAS Sumedang mengembangkan sejumlah layanan berbasis digital, mulai dari sistem antrean, pendataan muzaki, notifikasi WhatsApp, hingga pemanfaatan Kartu Tangkis atau Tangkal Kemiskinan untuk mendukung penyaluran bantuan serta pemetaan penerima manfaat. Langkah ini mendapat pengakuan lewat BAZNAS Jabar Award 2024, ketika BAZNAS Sumedang meraih penghargaan Digitalisasi Pengelolaan ZIS Terbaik dan Infrastruktur BAZNAS Terbaik. Digitalisasi dalam konteks ini bukan sekadar soal penggunaan teknologi, melainkan menyangkut bagaimana lembaga membangun data, ketepatan sasaran, kecepatan pelayanan, dan transparansi.
Penghargaan yang datang berulang turut menjadi bagian dari perjalanan ini. Pada BAZNAS Award 2022, BAZNAS Sumedang memperoleh penghargaan kategori kelembagaan. Pada BAZNAS Award 2024, penghargaan datang untuk kategori sinergitas program bersama pemerintah daerah, disusul beberapa kategori lain pada BAZNAS Jabar Award 2024. Pada BAZNAS Award 2025, BAZNAS Kabupaten Sumedang kembali meraih penghargaan nasional, termasuk kategori pengumpulan ZIS. Penghargaan tentu bukan ukuran tunggal keberhasilan, tetapi ketika penghargaan datang berulang dari tingkat provinsi hingga nasional, seiring dengan pertumbuhan program, penghimpunan, dan inovasi, ada alasan objektif untuk mengatakan bahwa BAZNAS Sumedang tengah bergerak pada arah yang positif.
Kepemimpinan yang diukur dari manfaat, bukan pujian
Apresiasi terhadap H. Ayi Subhan Hafas tidak perlu dimaknai sebagai kultus terhadap seorang figur. Kepemimpinan yang baik semestinya dibaca dari cara sebuah lembaga bekerja, cara sistem dibangun, dan cara masyarakat merasakan manfaatnya. Ayi menjadi bagian penting dari perjalanan itu: memimpin ketika BAZNAS harus menghadapi pandemi, meningkatkan penghimpunan, memperluas jaringan UPZ, mengembangkan digitalisasi, sekaligus mendorong agar dana zakat tidak berhenti pada bantuan konsumtif.
Tantangan ke depan masih panjang. Kemiskinan tidak selesai hanya dengan santunan, pendidikan masih membutuhkan perhatian, pemberdayaan ekonomi harus terus dikawal, data mustahik harus semakin akurat, transparansi harus semakin kuat, dan kepercayaan muzaki harus terus dirawat. Karena itulah keberhasilan BAZNAS tidak boleh berhenti pada perayaan penghargaan. Trofi adalah tanda pencapaian, tetapi kepercayaan masyarakat adalah modal yang jauh lebih berharga.
Jika perjalanan beberapa tahun terakhir dibaca secara utuh, benang merahnya cukup jelas: BAZNAS Sumedang bergerak dari sekadar lembaga penghimpun dan penyalur zakat menuju lembaga pemberdayaan sosial. Dari Rp37,3 miliar penghimpunan pada 2022 menuju sekitar Rp47 miliar pada 2024, dari ribuan UPZ sekolah menuju gerakan infak yang lebih terstruktur, dari bantuan pendidikan dan kesehatan menuju pemberdayaan ekonomi, dari pelayanan konvensional menuju digitalisasi.
Itulah alasan mengapa kepemimpinan H. Ayi Subhan Hafas layak mendapat apresiasi, bukan karena namanya terpampang di balik penghargaan, melainkan karena di balik angka, program, dan capaian tersebut terdapat satu pekerjaan besar yang sering tidak terlihat: menjaga amanah masyarakat agar setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah memberi manfaat sejauh mungkin. Ukuran paling penting bukan seberapa banyak penghargaan yang memenuhi lemari, melainkan seberapa banyak kehidupan yang berubah menjadi lebih baik karena amanah itu dikelola dengan benar. Di sanalah perjalanan BAZNAS Sumedang patut terus dikawal, diapresiasi, sekaligus didorong untuk menjadi lebih baik, sebab zakat bukan hanya soal memberi, melainkan tentang membangun kepercayaan, menguatkan kepedulian, dan membuka jalan agar masyarakat yang hari ini menerima, suatu hari nanti mampu memberi. (ES/NR01)