
Mengakui Kesalahan, Langkah Awal Perbaikan SPMB Jawa Barat
ADA satu hal yang jarang dilakukan pejabat di negeri ini, yakni mengakui kesalahan. Karena itu, saya sangat mengapresiasi langkah Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang secara terbuka menyatakan bahwa kisruh penerimaan murid baru bukan sepenuhnya kesalahan orang tua.
Menurut KDM, kemarahan para orang tua yang anaknya terancam tidak tertampung di sekolah negeri justru merupakan akibat dari kegagalan negara dalam menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai.
Kejujuran Pemimpin di Tengah Krisis SPMB
Kalimat tersebut bukan sekadar bentuk kerendahan hati, melainkan lahir dari kejujuran. Sebab selama ini yang sering terjadi justru sebaliknya, rakyat diminta memahami keadaan sementara pemerintah sibuk mencari pembenaran. Pejabat kerap pongah dan merasa benar, meskipun keadaan di lapangan makin memburuk, seperti yang sering terlihat pada pejabat di pemerintahan pusat.
KDM memilih jalan berbeda dari para elite di Jakarta. Beliau menegaskan, jika banyak orang tua marah karena anaknya tidak terpetakan di sekolah negeri, maka itu adalah kesalahan penyelenggara negara yang belum mampu menyediakan sekolah dan guru negeri bagi seluruh rakyat.
Di sinilah letak kepemimpinan KDM di Jawa Barat. Pemimpin bukan orang yang selalu benar, melainkan orang yang berani mengakui ketika sistem yang dipimpinnya bermasalah.
Evaluasi Menyeluruh Dinas Pendidikan Jawa Barat Mendesak Dilakukan
Namun bagi para orang tua, permintaan maaf saja tentu tidak cukup. Masalah SPMB Jawa Barat sebenarnya sudah diprediksi KDM sejak tahun lalu. Bahkan pada bulan Maret, KDM telah berkali-kali mengingatkan Dinas Pendidikan untuk bersiap dan memastikan sistem berjalan baik.
Pertanyaannya menjadi sederhana, jika peringatan sudah diberikan jauh hari, mengapa masalah tetap terjadi? Di sinilah evaluasi harus dilakukan hingga ke level pimpinan Dinas Pendidikan, bukan berhenti hanya pada operator atau pejabat teknis. Sebab setiap kegagalan sistem biasanya tidak lahir dalam semalam, melainkan akumulasi masalah yang dibiarkan berlarut-larut.
Kemarahan Orang Tua adalah Bentuk Kepedulian terhadap Pendidikan Anak
Meski demikian, saya tetap menghargai sikap KDM yang tidak menyalahkan rakyat. Bagi orang tua, urusan sekolah bukan sekadar administrasi, melainkan menyangkut masa depan anak mereka. Wajar bila mereka emosional dan marah.
Ketika seorang ayah atau ibu marah karena anaknya terancam kehilangan kesempatan sekolah, sesungguhnya yang berbicara bukan sekadar emosi, melainkan rasa sayang. Saya mengapresiasi KDM yang dengan tulus menerima kemarahan tersebut sebagai bentuk kepedulian demi kemajuan pendidikan di Jawa Barat.
Saatnya Evaluasi Sistem dan Kepemimpinan Dinas Pendidikan
Menurut Anda, apakah cukup pejabat meminta maaf, atau sudah saatnya dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap Dinas Pendidikan Jawa Barat? Jika Dinas Pendidikan dinilai belum mampu menghadirkan kenyamanan bagi peserta didik, mungkinkah KDM dapat mempertimbangkan untuk mengevaluasi sistem dan kepemimpinan di dinas tersebut, agar persoalan SPMB seperti ini tidak terus berulang di tahun-tahun mendatang?
Penulis : Elang Salamina – Pemred Narasi.id