
Asep Kurnia : Dari Bilik Suara Ke Bilik Aspirasi
DI TENGAH iklim politik yang semakin transaksional, masyarakat sesungguhnya merindukan hal sederhana: wakil rakyat yang mau hadir, mendengar, dan bekerja. Karakter itulah yang selama ini melekat pada Asep Kurnia, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Sumedang.
Lahir di Sumedang pada 10 Agustus 1980, Asep bukan figur yang tiba-tiba muncul di panggung politik. Kepemimpinannya ditempa sejak dini, dari kursi Ketua OSIS hingga Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pasundan. Gelar Sarjana Hukum dan Magister Hukum yang ia sandang bukan sekadar ornamen akademis, melainkan bekal analitis yang ia bawa ke setiap ruang kebijakan.
Dari Penyelenggara Menjadi Pejuang Aspirasi
Karier publik Asep Kurnia bermula dari dunia kepemiluan. Ia dipercaya menjadi anggota KPUD Sumedang di usia relatif muda, kemudian menduduki posisi Ketua KPUD selama tiga periode hingga 2017. Lebih dari satu dekade mengawal demokrasi dari dalam memberinya pemahaman mendalam tentang tata kelola pemerintahan dan dinamika masyarakat. Di masa kepemimpinannya, KPUD Sumedang meraih sejumlah penghargaan atas kualitas penyelenggaraan pemilu.
Setelah purna tugas sebagai penyelenggara, Asep memilih masuk ke arena politik elektoral. Ia maju sebagai calon Wakil Bupati Sumedang pada Pilkada 2018. Meski belum berhasil, langkah itu menjadi batu loncatan penting. Setahun kemudian, kepercayaan masyarakat mengantarnya ke kursi DPRD Kabupaten Sumedang. Pada Pemilu 2024, kepercayaan itu diperkuat dengan terpilihnya ia untuk periode kedua, kini dengan amanah sebagai Ketua Fraksi Golkar sekaligus sejumlah posisi strategis di lembaga legislatif daerah.
Bapak Aspirasi di Cimanggung dan Jatinangor
Jabatan bukan satu-satunya alasan nama Asep Kurnia dikenal luas di daerah pemilihannya. Di Cimanggung dan Jatinangor, ia dikenal sebagai legislator yang tidak membangun sekat dengan warga. Ia hadir bukan hanya saat musim kampanye, melainkan secara berkelanjutan, menerima keluhan warga mulai dari infrastruktur, banjir, pelayanan publik, hingga pemberdayaan UMKM dan perluasan akses pelatihan kerja.
Banyak warga menyebutnya “bapak aspirasi”, sebuah sebutan yang lahir bukan dari pencitraan, melainkan dari kebiasaan yang konsisten. Ia aktif mendorong penataan kawasan Jatinangor dan Cimanggung sebagai wilayah pendidikan, permukiman, dan industri yang berpihak pada masyarakat sekitar, termasuk upaya pengentasan kemiskinan yang masih menjadi agenda penting daerah.
Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap banyak politisi, kehadiran figur yang turun langsung ke lapangan memiliki bobot tersendiri. Masyarakat tidak selalu menilai pemimpin dari banyaknya pidato atau publikasi. Mereka menghargai pemimpin yang bersedia hadir ketika dibutuhkan.
Perjalanan Asep Kurnia membuktikan bahwa politik dapat dijalankan sebagai ruang pengabdian nyata. Ukuran keberhasilannya bukan ditentukan oleh deretan jabatan yang disandang, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dari kehadirannya sebagai wakil rakyat. (ES/NR01)