
BAZNAS Sumedang dan Wajah Baru Zakat yang Menyentuh Rakyat
DI TENGAH tantangan ekonomi masyarakat yang masih dirasakan sebagian warga, kehadiran BAZNAS Kabupaten Sumedang pada tahun 2026 tidak hanya tampil sebagai lembaga penghimpun zakat semata, tetapi mulai mengambil peran strategis dalam mendukung arah pembangunan daerah. Berbagai program yang dijalankan kini semakin menyentuh kebutuhan riil masyarakat, mulai dari pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ketahanan pangan masyarakat desa.
Transformasi pola bantuan yang dilakukan BAZNAS Sumedang menjadi salah satu langkah yang cukup relevan dengan kebutuhan zaman. Jika sebelumnya bantuan sosial identik dengan pola konsumtif, kini pendekatan yang dibangun lebih diarahkan pada pemberdayaan produktif. Melalui program bantuan usaha mikro, Z Mart, Z Auto, pembinaan peternak, hingga penguatan ekonomi desa, BAZNAS mencoba membangun kemandirian masyarakat agar tidak terus bergantung pada bantuan sesaat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan agenda Pemerintah Kabupaten Sumedang yang saat ini menaruh perhatian besar terhadap penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan berbasis masyarakat. Di tengah tekanan ekonomi global dan tantangan daya beli masyarakat, keberadaan program pemberdayaan menjadi penting agar masyarakat kecil memiliki ruang untuk bertahan sekaligus berkembang.
Tidak hanya pada sektor ekonomi, BAZNAS Sumedang juga aktif memperkuat pelayanan sosial masyarakat melalui program kesehatan dan pendidikan. Bantuan pengobatan, ambulans gratis, bantuan BPJS bagi warga kurang mampu, hingga dukungan pendidikan bagi pelajar menjadi bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia di Sumedang.
Program BAZNAS Goes To School misalnya, tidak sekadar mengajarkan budaya infak di lingkungan pendidikan, tetapi juga membangun kepedulian sosial sejak dini. Di tengah era individualisme yang semakin menguat, pendekatan seperti ini memiliki nilai penting dalam membangun karakter generasi muda yang peduli terhadap sesama.
Pada sektor ketahanan pangan, pendampingan terhadap petani dan peternak juga menunjukkan bahwa zakat kini mulai diarahkan sebagai instrumen pembangunan ekonomi umat. Pendekatan ini menjadi penting karena mayoritas masyarakat desa masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan.
Keberhasilan berbagai program tersebut tentu tidak lahir begitu saja. Seluruh capaian yang dirasakan masyarakat tidak lepas dari komitmen Ketua BAZNAS Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas dalam membangun tata kelola zakat yang lebih produktif, terukur, dan menyentuh langsung kebutuhan warga. Di bawah kepemimpinannya, BAZNAS Sumedang terlihat semakin aktif membangun sinergi dengan pemerintah daerah agar program yang dijalankan benar benar selaras dengan arah pembangunan Kabupaten Sumedang.
Komitmen tersebut juga sejalan dengan semangat Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang melalui tekad “Simpatina Kadeuleu, Karasa, Karampa” yang menekankan pentingnya pelayanan yang hadir, dirasakan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat itu tampak tercermin dalam berbagai program BAZNAS yang tidak hanya hadir secara administratif, tetapi benar benar turun menyentuh kehidupan masyarakat kecil.
Meski demikian, tantangan ke depan tetap tidak ringan. Transparansi pengelolaan dana umat, akurasi penerima manfaat, serta keberlanjutan program pasca bantuan menjadi pekerjaan penting yang harus terus dijaga. Sebab, kepercayaan publik merupakan modal utama bagi lembaga pengelola zakat untuk terus tumbuh dan memberi manfaat lebih luas.
Di tengah tuntutan masyarakat terhadap lembaga publik yang semakin tinggi, BAZNAS Sumedang setidaknya menunjukkan bahwa zakat dapat menjadi instrumen pembangunan sosial yang konkret ketika dikelola secara serius, profesional, dan berpihak pada kepentingan masyarakat kecil. (ES/NR01)