
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan APBN 2026 Dorong Penguatan Pendidikan Nonformal di SPNF SKB Sumedang
SUMEDANG, Narasi.id — Program revitalisasi satuan pendidikan yang digulirkan pemerintah pusat melalui APBN Tahun Anggaran 2026 menjadi momentum penting bagi penguatan pendidikan non formal di daerah. Salah satu penerima manfaatnya adalah SPNF SKB Sumedang yang mendapatkan bantuan sebesar Rp. 454.375.000 untuk peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.
Program revitalisasi satuan pendidikan ini berada di bawah naungan Direktorat Pendidikan Non formal dan Pendidikan Informal, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Fokus utamanya adalah memperbaiki infrastruktur pendidikan agar lebih layak, aman, dan mendukung kualitas layanan belajar masyarakat.
Kepala SPNF SKB Sumedang, Dra. Hj. Nana Widhianawati, M.Pd., menegaskan bahwa bantuan revitalisasi dari pemerintah ini menjadi dorongan signifikan bagi peningkatan mutu pendidikan non formal di wilayahnya.
“Kami sangat bersyukur atas bantuan pemerintah melalui program revitalisasi satuan pendidikan ini. Ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas layanan pendidikan non formal bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, revitalisasi satuan pendidikan memiliki dampak langsung terhadap kenyamanan warga belajar, efektivitas proses pembelajaran, serta citra lembaga pendidikan non formal di tengah masyarakat. Dengan fasilitas yang lebih representatif, SPNF SKB Sumedang diharapkan mampu menjangkau lebih banyak peserta didik dari berbagai latar belakang.
Dalam konteks pembangunan pendidikan nasional, program revitalisasi ini juga sejalan dengan upaya pemerataan akses pendidikan, khususnya bagi jalur non formal yang selama ini menjadi alternatif strategis bagi masyarakat yang tidak terakomodasi dalam sistem pendidikan formal.
Namun demikian, Nana menekankan bahwa kebutuhan pengembangan belum sepenuhnya terpenuhi. Ia berharap pemerintah dapat kembali mengalokasikan bantuan lanjutan untuk mendukung penataan lingkungan sekolah secara menyeluruh, termasuk penguatan aspek keamanan.
“Ke depan kami berharap ada bantuan lanjutan, khususnya untuk penataan halaman sekolah dan penggantian pagar. Lingkungan yang tertata akan semakin menunjang keamanan dan kenyamanan proses belajar,” katanya.
Ia mengungkapkan, kebutuhan pemagaran menjadi cukup mendesak karena selama ini lingkungan sekolah kerap mengalami gangguan keamanan. Beberapa fasilitas seperti tabung gas, mesin air sanyo, hingga lampu-lampu dilaporkan sering hilang akibat pencurian.
Selain itu, area masjid yang berada di lingkungan sekolah juga kerap disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
“Sering terjadi pencurian, seperti gas, sanyo, dan lampu. Bahkan masjid juga kerap dipakai tidur oleh orang-orang yang mabuk. Ini tentu mengganggu kenyamanan dan keamanan lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Sementara itu, hasil pantauan awak redaksi Narasi.id di lokasi menunjukkan bahwa pelaksanaan pembangunan revitalisasi satuan pendidikan berjalan sesuai spesifikasi teknis. Struktur bangunan terlihat kokoh, pengerjaan rapi, dan tidak ditemukan indikasi penyimpangan dari standar pekerjaan yang telah ditetapkan.
Kondisi ini memperkuat bahwa program revitalisasi satuan pendidikan tidak hanya terealisasi secara administratif, tetapi juga secara fisik memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas sarana pendidikan non formal di Sumedang.
Dengan adanya revitalisasi ini, SPNF SKB Sumedang diharapkan semakin optimal dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat. Keberadaan fasilitas yang memadai menjadi kunci dalam mendorong partisipasi pendidikan, meningkatkan kompetensi warga belajar, serta memperkuat peran pendidikan non formal dalam pembangunan sumber daya manusia.
Penguatan melalui program revitalisasi satuan pendidikan berbasis APBN ini sekaligus menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Sumedang. (P. Sofian)