
Hardiknas 2026 : Tiga Poros Transformasi Pendidikan Sumedang
SUMEDANG, Narasi.id — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Sumedang bukan sekadar seremonial tahunan. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Eka Ganjar Kurniawan, menegaskan bahwa momentum ini menjadi ruang evaluasi sekaligus penguatan arah kebijakan pendidikan daerah yang bertumpu pada tiga poros utama: infrastruktur, digitalisasi, dan pendidikan karakter.
Berpijak pada amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Eka memandang bahwa tantangan pendidikan hari ini tidak bisa dijawab dengan pendekatan sepotong-sepotong. Kesenjangan kualitas antar wilayah, perubahan lanskap teknologi, hingga krisis karakter di kalangan generasi muda menuntut kebijakan yang terintegrasi dan berorientasi dampak nyata.
Infrastruktur: Bukan Sekadar Bangunan
Di bidang infrastruktur, Dinas Pendidikan Sumedang tidak hanya mengejar pembangunan fisik, tetapi menata ulang pendekatannya berbasis kebutuhan riil setiap sekolah. Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap satuan pendidikan didorong memiliki ruang belajar yang layak, aman, dan kondusif. Lebih dari itu, kebijakan ini secara khusus diarahkan untuk mempersempit kesenjangan antara sekolah di pusat kota dan wilayah pinggiran.
Digitalisasi: Soal Cara Berpikir, Bukan Sekadar Layar
Namun Eka menegaskan, infrastruktur yang baik tanpa transformasi cara pembelajaran tidak akan menghasilkan perubahan berarti. Di sinilah poros kedua, digitalisasi, mengambil peran. Selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, digitalisasi di Sumedang diarahkan pada integrasi sistem, penguatan data pendidikan, serta pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar, bukan sekadar modernisasi tampilan.
Yang tak kalah penting, kebijakan ini turut menyasar peningkatan kapasitas guru. Literasi digital menjadi krusial agar teknologi benar-benar berfungsi sebagai medium pembelajaran yang adaptif, bukan sekadar pengganti papan tulis.
“Digitalisasi itu soal perubahan cara berpikir. Kalau hanya mengganti papan tulis dengan layar, tapi metode mengajarnya sama, dampaknya tidak akan terasa,” ujar Eka.
Karakter: Fondasi yang Tak Boleh Goyah
Adapun pendidikan karakter ditempatkan sebagai fondasi dari seluruh transformasi. Nilai-nilai yang diwariskan Ki Hajar Dewantara diaktualisasikan melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, dan diterjemahkan secara lokal dalam penguatan profil lulusan delapan dimensi.
Pendekatan ini menempatkan siswa bukan hanya sebagai subjek akademik, melainkan sebagai individu utuh yang memiliki integritas, empati, dan daya saing. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, pendidikan karakter menjadi benteng sekaligus kompas bagi generasi muda.
Kadeuleu, Karasa, Karampa
Ketiga poros tersebut bermuara pada satu tujuan: pendidikan yang kadeuleu, karasa, karampa. Terlihat hasilnya, dirasakan manfaatnya, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. Program tidak boleh berhenti di atas kertas.
Dalam kerangka pembangunan daerah, pendekatan ini memastikan pendidikan tidak berjalan di ruangnya sendiri, tetapi terhubung dengan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat Sumedang.
Evaluasi berbasis data, penguatan tata kelola, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar setiap kebijakan memiliki keberlanjutan yang nyata.
“Hardiknas harus jadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar rutinitas. Ia harus terus bergerak, beradaptasi, dan yang paling penting, memberi manfaat nyata,” kata Eka Ganjar Kurniawan.
Dengan arah yang semakin jelas, Hardiknas di Sumedang bukan lagi sekadar peringatan historis. Ia menjadi penegasan bahwa transformasi pendidikan sedang berjalan, perlahan namun terarah, menuju sistem yang lebih adil, adaptif, dan berkarakter. (ES/NR01)