
Ayi Subhan Hafas dan Transformasi Baznas Sumedang Menjadi Rujukan Pengelolaan Zakat Nasional
DI TENGAH meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas lembaga, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumedang menunjukkan capaian yang patut diapresiasi. Di bawah kepemimpinan H. Ayi Subhan Hafas, S.H., M.M., lembaga ini tidak hanya menjaga kepercayaan masyarakat, tetapi juga tumbuh menjadi salah satu Baznas daerah yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Keberhasilan ini tidak lahir dalam semalam. Sebelum dipercaya memimpin Baznas Sumedang, Ayi Subhan Hafas telah lama aktif dalam aktivitas sosial keagamaan dan pengelolaan zakat. Berbekal latar belakang pendidikan Sarjana Hukum dan Magister Manajemen, ia membawa pendekatan yang memadukan tata kelola organisasi modern dengan nilai sosial keagamaan, bekal yang mengantarkannya lolos seleksi pimpinan Baznas Sumedang dan dipercaya memimpin selama dua periode berturut turut, 2019–2024 dan 2024–2029.
Mandat dua periode ini bukan sekadar formalitas, melainkan buah dari kinerja kelembagaan yang nyata dirasakan masyarakat.
Membangun Kepercayaan Melalui Kinerja dan Kolaborasi
Salah satu keberhasilan paling menonjol kepemimpinan Ayi Subhan Hafas adalah kemampuannya membangun sinergi kuat antara Baznas Sumedang dan Pemerintah Kabupaten Sumedang. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam memperluas jangkauan program sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kolaborasi tersebut mendapat pengakuan nasional. Pada ajang Baznas Award, Baznas Sumedang meraih penghargaan sebagai Baznas Kabupaten dengan Sinergitas Program Bersama Pemerintah Daerah Terbaik Nasional, bukti nyata bahwa tata kelola, koordinasi, dan inovasi yang dibangun memberi dampak konkret bagi masyarakat. Di sektor penghimpunan zakat, infak, dan sedekah, Baznas Sumedang juga menunjukkan tren positif, dengan target penghimpunan yang terus meningkat setiap tahun, cerminan tumbuhnya kepercayaan masyarakat.
Ketika pertama kali memimpin, Ayi Subhan Hafas pernah menyampaikan bahwa potensi zakat yang tergali masih sangat kecil dibandingkan potensi riil Kabupaten Sumedang. Karena itu, penguatan kelembagaan dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan pelayanan, penguatan Unit Pengumpul Zakat, hingga membangun kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan. Kepercayaan publik menjadi modal utama, sebab tanpa kepercayaan, potensi zakat sebesar apa pun tidak akan terkonversi menjadi manfaat nyata. Dalam konteks inilah Baznas Sumedang membuktikan bahwa profesionalisme, transparansi, dan amanah dapat berjalan beriringan.
Salah satu inovasi yang menonjol adalah program Baznas Goes To School, yang tidak hanya meningkatkan penghimpunan dana sosial di lingkungan pendidikan, tetapi juga menanamkan budaya berbagi, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong kepada generasi muda sejak dini. Program ini menjadi contoh bagaimana pengelolaan zakat tidak sekadar aktivitas penghimpunan dana, melainkan juga sarana membangun karakter sosial masyarakat.
Dari Zakat Konsumtif Menuju Pemberdayaan Produktif
Ciri lain kepemimpinan Ayi Subhan Hafas adalah dorongan mengubah paradigma penyaluran zakat dari pola konsumtif menuju pola produktif dan berkelanjutan. Selama bertahun tahun, zakat kerap dipahami sebagai bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Namun Baznas Sumedang kini mengarahkan programnya pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, agar penerima manfaat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh kesempatan meningkatkan taraf hidup.
Melalui program zakat produktif, bantuan diarahkan untuk mendukung usaha mikro, meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga, serta membuka peluang kemandirian bagi masyarakat yang membutuhkan. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan perubahan sosial yang berkelanjutan, di mana mustahik dapat bertransformasi menjadi masyarakat yang mandiri dan berdaya. Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan Baznas nasional yang menempatkan zakat sebagai instrumen strategis dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan umat.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang, langkah ini semakin relevan. Zakat tidak lagi hanya diposisikan sebagai bantuan sosial, melainkan sebagai instrumen pembangunan sosial ekonomi yang menciptakan dampak jangka panjang.
Perjalanan Ayi Subhan Hafas menunjukkan proses yang bertahap dan konsisten, dari keterlibatan dalam aktivitas sosial keagamaan dan pengelolaan zakat, memimpin Baznas Sumedang pada periode pertama, hingga kembali dipercaya untuk periode kedua. Kontinuitas kepemimpinan ini menjadi indikasi bahwa kinerja kelembagaan yang dibangun memperoleh apresiasi luas.
Ke depan, tantangan yang dihadapi tentu tidak semakin ringan. Potensi zakat yang masih sangat besar menuntut inovasi, digitalisasi layanan, penguatan tata kelola, serta perluasan program pemberdayaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Namun dengan fondasi yang telah dibangun selama beberapa tahun terakhir, Baznas Sumedang memiliki modal kuat untuk terus berkembang sebagai lembaga filantropi modern yang profesional, akuntabel, dan responsif.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah lembaga bukan hanya terletak pada penghargaan yang diraih, melainkan pada sejauh mana kehadirannya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam konteks itulah, perjalanan Baznas Sumedang di bawah kepemimpinan Ayi Subhan Hafas membuktikan bahwa pengelolaan zakat yang amanah, profesional, dan inovatif bukan sekadar cita-cita, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan melalui kerja nyata dan konsistensi pengabdian. (ES/NR01)