
Herman Suryatman, Birokrat yang Tumbuh dari Lapangan dan Ditempa oleh Tantangan
DI BALIK setiap kebijakan pemerintah yang berjalan, ada sosok yang bekerja jauh dari sorotan kamera. Bukan politisi yang setiap hari menghiasi pemberitaan, tetapi birokrat yang menjadi mesin utama agar roda pemerintahan terus berputar.
Di Jawa Barat, Herman Suryatman adalah salah satu figur dari jalur itu.
Kariernya tidak dibangun melalui popularitas atau manuver politik. Ia menempuh jalan panjang, dari level pemerintahan paling bawah hingga dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat. Perjalanan itu bukan sekadar soal promosi jabatan, melainkan proses panjang yang ditempa oleh pengalaman lapangan, pendidikan pemerintahan, dan karakter kepemimpinan yang terbentuk dari disiplin serta keberanian menghadapi tantangan.
Sebelum dikenal sebagai birokrat senior, Herman pernah mengikuti pelatihan militer yang turut membentuk wataknya. Dari sana, ia memperoleh ketegasan, ketahanan dalam tekanan, dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat. Karakter itu melekat hingga hari ini, dan menjadi salah satu alasan mengapa banyak kalangan birokrasi menilainya sebagai sosok yang cerdas, beretos kerja tinggi, dan tidak pernah alergi terhadap tantangan baru.
Dari Kelurahan hingga Kementerian
Karier Herman dimulai dari titik paling dasar. Ia pernah menjadi lurah, posisi yang membuatnya memahami secara langsung denyut kehidupan masyarakat dan kompleksitas pelayanan publik di tingkat paling depan. Pengalaman itu menjadi fondasi yang sulit digantikan oleh pendidikan formal mana pun.
Memasuki dekade 2000-an, ia terus meniti berbagai posisi strategis di lingkungan pemerintahan. Kemampuannya dalam tata kelola birokrasi membawanya ke tingkat nasional.
Pada 2013 hingga 2017, Herman dipercaya menjabat Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Kariernya berlanjut pada 2017 hingga 2019, ketika ia menjabat Sekretaris Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Aparatur Kementerian PANRB, jabatan yang menempatkannya langsung dalam pusaran reformasi birokrasi nasional dan pengelolaan aparatur sipil negara.
Pengalaman di pusat memberi Herman perspektif yang luas, memahami bagaimana kebijakan negara dirancang sekaligus memetakan tantangan implementasinya di daerah. Bekal itulah yang kemudian dibawanya saat kembali ke Jawa Barat.
Pada 2019, ia dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang. Selama hampir empat tahun, ia terlibat dalam modernisasi birokrasi, percepatan pelayanan publik, dan penguatan tata kelola pemerintahan daerah. Kariernya kembali menanjak pada 2023 ketika pemerintah menunjuknya sebagai Penjabat Bupati Sumedang, sebuah kepercayaan yang menjadi bukti nyata kapasitas manajerial dan kepemimpinannya.
Memimpin Birokrasi Jawa Barat
Puncak perjalanan karier Herman tiba pada 1 April 2024, ketika ia resmi dilantik sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat.
Jabatan ini menempatkannya sebagai birokrat tertinggi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sekaligus penghubung utama antara kebijakan kepala daerah dengan pelaksanaan teknis ribuan aparatur sipil negara. Tugas itu tidak ringan.
Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Kompleksitas persoalannya pun sangat luas, mencakup infrastruktur, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, hingga tata kelola kawasan perkotaan dan pedesaan yang semuanya membutuhkan koordinasi birokrasi dalam skala besar.
Di sinilah kualitas seorang Sekda benar-benar diuji.
Herman membawa modal yang tidak dimiliki semua birokrat. Ia memahami lapangan karena pernah bekerja dari level bawah. Ia memahami kebijakan nasional karena pernah berkiprah di kementerian. Ia memahami manajemen daerah karena pernah menjadi Sekda dan Penjabat Bupati. Kombinasi pengalaman itu menjadikannya birokrat yang cepat membaca persoalan, responsif terhadap situasi, dan mampu bekerja di bawah tekanan tinggi.
Perjalanan Herman Suryatman membuktikan satu hal, bahwa birokrasi masih menyediakan ruang bagi mereka yang mau bekerja keras, terus belajar, dan berani menghadapi tantangan.
Dari kantor kelurahan hingga Gedung Sate, kepemimpinan itu tidak lahir dalam semalam. Ia dibentuk oleh waktu, pengalaman, dan konsistensi dalam mengabdi. (ES/NR01)