
Sonia Sugian Terima Penghargaan KBRI Kairo atas Kontribusi sebagai Narasumber Dialog Indonesia Emas 2045
KAIRO, Narasi.id — Pengakuan internasional kembali diraih tokoh perempuan Indonesia. Sonia Sugian, SH., MH., M.tr.IP, menerima piagam penghargaan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, atas kontribusinya sebagai narasumber dalam forum Himpunan Mahasiswa Jupiring dan Dialog Interaktif Indonesia Emas 2045.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Bhinneka Tunggal Ika KBRI Kairo pada 13 April 2026 itu tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat visi besar Indonesia menuju 2045. Di hadapan ratusan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Sonia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjawab tantangan global, mulai dari isu pendidikan, kepemimpinan, hingga pemberdayaan perempuan.
Diplomasi Pendidikan dan Peran Perempuan
Penghargaan yang diterima Sonia menjadi simbol pengakuan atas kontribusi pemikiran dan advokasinya dalam isu pendidikan dan kesetaraan. Ia melihat pengalaman ini sebagai bagian dari diplomasi non formal yang membuka ruang kolaborasi lintas negara.
“Ini bukan hanya tentang penghargaan, tetapi tentang kepercayaan. Perempuan memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi, bahkan di level global, selama memiliki tekad dan kesiapan,” ujarnya.
Kehadiran Sonia di Kairo merupakan bagian dari misi bersama KPPI Jawa Barat dan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia yang berlangsung sejak 11 hingga 19 April 2026. Agenda ini mencakup dialog, pertukaran gagasan, hingga penjajakan kerja sama pendidikan.
Dalam keterangannya, Sonia mengungkapkan bahwa Kairo menjadi salah satu pusat pendidikan bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia di kota tersebut mencapai sekitar 20 ribu orang, dengan tambahan ribuan mahasiswa baru setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 3 ribu mahasiswa berasal dari Jawa Barat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Mesir, khususnya Al-Azhar, masih menjadi magnet utama bagi pelajar Indonesia. Selain faktor sejarah dan keilmuan, sistem pendidikan yang kuat serta dukungan beasiswa menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda.
Sonia juga menangkap aspirasi mahasiswa yang berharap kehadiran Dedi Mulyadi di Kairo. Menurutnya, Gubernur Jawa Barat itu dianggap mampu menghadirkan inspirasi dan kedekatan emosional bagi mahasiswa, terutama yang berasal dari Jawa Barat.
Lebih jauh, Sonia bersama rombongan melakukan pertemuan dengan Dewan Penasehat Syeh Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Nahla. Pertemuan ini membahas isu strategis yang semakin relevan di era global, seperti pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta peran pendidikan dalam membentuk generasi masa depan.
Dari pertemuan tersebut, muncul rencana tindak lanjut berupa kerja sama antara Universitas Al-Azhar dan KPPI Jawa Barat. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi mampu menghadirkan program nyata dalam bidang pendidikan, pertukaran pengetahuan, hingga penguatan kapasitas generasi muda.
Sonia menilai pendidikan menjadi kunci utama dalam membangun daya saing bangsa. Ia melihat bagaimana Mesir memberikan perhatian besar terhadap sektor ini, termasuk melalui berbagai program beasiswa yang menyasar generasi muda dari berbagai negara.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Apa yang kami lihat di Kairo menjadi pelajaran penting bahwa akses dan kualitas pendidikan harus terus diperjuangkan,” katanya.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan ini dapat berkontribusi nyata bagi Indonesia, tidak hanya dalam jangka pendek tetapi juga sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi emas 2045.
“Semoga kerja sama yang direncanakan bisa berjalan dengan baik dan pengalaman ini dapat diimplementasikan untuk kemajuan Indonesia,” tutupnya. (ES/NR01)