
Bunda Bilqis Evaluasi dan Bubarkan Panitia Musda XI, Ajak Kader Kerja Nyata
SUMEDANG – Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sumedang terpilih, Hj. Yuslita Sumartini Bilqis, S.M., yang akrab disapa Bunda Bilqis, menggelar evaluasi pelaksanaan dan membubarkan kepanitiaan Musyawarah Daerah (Musda) XI. Langkah ini sekaligus menjadi ajakan kepada seluruh kader agar segera beralih ke kerja nyata bagi masyarakat.
Bagi Bunda Bilqis, evaluasi dan pembubaran panitia bukan sekadar penutup rangkaian Musda. Agenda tersebut menjadi ruang untuk meninjau pelaksanaan kegiatan, memperkuat soliditas, dan menyiapkan langkah strategis kepengurusan Golkar Sumedang ke depan.
Evaluasi diperlukan untuk menelaah seluruh rangkaian Musda, baik aspek yang layak dipertahankan maupun yang perlu dibenahi. Pembubaran kepanitiaan menandai selesainya satu tanggung jawab sekaligus dimulainya agenda organisasi berikutnya.
Langkah ini menunjukkan keinginan untuk tidak berlama-lama larut dalam euforia hasil Musda XI. Pasca pergantian kepemimpinan, konsolidasi dan evaluasi menjadi tahap penting agar energi politik partai segera tersalurkan ke dalam kerja organisasi yang lebih terukur.
Dari Transisi ke Kerja Nyata
Dalam perspektif politik kelembagaan, transisi kepemimpinan tidak cukup berhenti pada penetapan ketua baru. Dibutuhkan kesinambungan kerja, pembenahan internal, dan orientasi program yang menjawab kebutuhan masyarakat. Musda pun menjadi titik berangkat menuju kerja politik yang lebih substantif, bukan garis akhir.
Bunda Bilqis menegaskan, Golkar Sumedang tidak cukup hanya kuat secara struktural. Partai juga harus membangun kedekatan dengan masyarakat, menyerap aspirasi warga, dan menghadirkan manfaat nyata melalui program yang menyentuh kebutuhan publik.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah program Sapa Warga, yang masuk dalam agenda 100 hari kerja awal kepemimpinannya. Program ini diarahkan untuk memperkuat komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus membuka ruang pengembangan potensi ekonomi lokal, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui pendekatan tersebut, Golkar diharapkan hadir tidak hanya pada momentum politik, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika sosial dan ekonomi warga. Kedekatan dengan masyarakat merupakan modal untuk membangun kepercayaan dan memastikan kerja partai tidak terputus setelah kontestasi politik usai.
Evaluasi dan pembubaran panitia pada akhirnya bermakna lebih luas daripada penutup acara. Di dalamnya terkandung upaya merawat kebersamaan, menuntaskan tanggung jawab kepanitiaan, dan menyiapkan pijakan bagi kepemimpinan baru.
Tantangan berikutnya bagi Golkar Sumedang adalah menerjemahkan hasil Musda menjadi kerja nyata. Kepemimpinan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh soliditas internal partai, tetapi juga oleh kemampuan membuka ruang seluas-luasnya bagi aspirasi masyarakat. ***