
Peringatan Hari Kartini : Perempuan Modern Dituntut Lebih dari Sekadar Simbol
SUMEDANG, Narasi.id — Peringatan Hari Kartini tidak lagi cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan yang identik dengan kebaya dan simbol budaya. Perempuan masa kini dituntut menghadirkan makna yang lebih substantif, terutama dalam menjawab tantangan sosial, politik, dan ekonomi yang semakin kompleks.
Hal itu disampaikan Yuslita Sumartini Bilqis, SM, dalam refleksinya menyambut Hari Kartini 2026. Ia menegaskan bahwa semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini perlu ditafsirkan ulang agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Menurut Bunda Bilqis–sapaan akrab Yuslita Sumartini Bilqis, Kartini pada masanya memperjuangkan akses pendidikan sebagai jalan pembebasan perempuan dari keterbatasan struktural. Namun hari ini, persoalan tidak lagi berhenti pada akses semata.
“Perempuan sekarang sudah memiliki ruang yang lebih luas. Tantangannya justru pada bagaimana membangun kesadaran kritis agar kebebasan itu tidak berhenti pada simbol, tetapi menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan,” ujarnya.
Ia menilai, di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, perempuan menghadapi paradoks. Di satu sisi, peluang semakin terbuka lebar. Di sisi lain, tekanan sosial justru semakin kompleks, mulai dari standar budaya yang kontradiktif hingga beban ganda dalam kehidupan domestik dan publik.
Dalam konteks tersebut, Bunda Bilqis menekankan pentingnya literasi sosial dan politik bagi perempuan. Menurutnya, emansipasi tidak cukup dimaknai sebagai kesetaraan akses, tetapi juga keterlibatan aktif dalam proses pengambilan kebijakan.
“Perempuan harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Artinya, perempuan perlu hadir dan berperan dalam menentukan arah kebijakan yang berdampak pada masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun kesadaran perempuan. Pendidikan yang dimaksud tidak hanya formal, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan memahami dinamika sosial secara menyeluruh.
Selain itu, momentum Hari Kartini dinilai penting untuk memperkuat solidaritas antar perempuan. Menurut Bunda Bilqis, perubahan sosial tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui gerakan kolektif yang terbangun dari kesadaran bersama.
“Perempuan perlu saling menguatkan. Karena persoalan yang dihadapi sering kali bersifat struktural, sehingga membutuhkan respons yang juga kolektif,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi mendatang. Peran tersebut menjadikan perempuan sebagai aktor penting dalam pembangunan peradaban bangsa.
Dengan demikian, Bunda Bilqis mengajak masyarakat untuk memaknai Hari Kartini secara lebih reflektif dan mendalam. Ia menegaskan bahwa peringatan ini harus menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan dalam berbagai sektor kehidupan.
“Hari Kartini bukan sekadar mengenang, tetapi juga mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Perempuan hari ini harus melanjutkan dengan kesadaran, keberanian, dan kontribusi nyata,” pungkasnya. (ES/NR01)